PONTIANAKGLOBE.COM | Dalam suasana penuh sukacita dan kebersamaan, bertempat di Keuskupan Agung Pontianak merayakan Misa Syukur 25 Tahun Tahbisan Episkopal Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, di Gereja Santo Yoseph Katedral Pontianak.
Misa yang dihadiri oleh berbagai kalangan umat Katolik ini dimana momen itu bukan hanya menjadi kesempatan Uskup Agustinus untuk bersyukur atas perjalanan panjangnya, tetapi momen refleksi iman bagi seluruh umat yang hadir, termasuk di dalamnya para imam yang turut menyaksikan cerita panjang Uskup Agustinus.
Dalam kesempatan yang penuh makna itu, pada perayaan misa syukur 9 Februari 2025, homili atau kotbah disampaikan oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC.
Dalam homilinya, Uskup Anton, sapaan akrabnya, menggambarkan perjalanan hidup Uskup Agustinus yang penuh dengan tantangan, namun dipenuhi dengan kasih dan rahmat Allah, yang akhirnya membawanya ke posisi yang sangat mulia sebagai Uskup Agung Pontianak.
Uskup Anton membuka homilinya dengan mengajak umat untuk bersama-sama bersyukur kepada Tuhan.
“Saudara-saudari yang terkasih, pertama-tama kita bersyukur kepada Allah karena kita diperkenankan untuk ambil bagian dalam peristiwa iman syukur atas 25 tahun perjalanan tabisan Uskup Agung Mons. Agustinus Agus. Pada hari ini, kita juga berdoa baginya sesuai dengan harapan yang tadi telah disampaikan," katanya.
Dalam momen tersebut, Uskup Anton juga menyinggung suasana sukacita yang menyelimuti seluruh perayaan tersebut, yang salah satunya ditandai dengan sambutan barongsai yang meriah.
"Kita disambut oleh barongsai di luar sana, bersukacita. Saya mendengar pada waktu Misa Imlek ada juga barongsai di dalam gereja ini. Ketika ada yang bertanya apakah barongsai boleh masuk gereja atau tidak, saya jawab, jawabannya gampang, tanya saja barongsainya, sudah dibaptis atau belum. Kalau sudah dibaptis, ya boleh masuk," ujar Uskup Anton dengan nada humor yang membuat seluruh umat tertawa.
Dengan kegembiraan, Uskup Anton melanjutkan homilinya dengan menceritakan bagaimana Tuhan, yang Maha Kuasa, memilih untuk menggunakan manusia sebagai bagian dari karya keselamatannya.
“Allah itu Maha Kuasa, apa saja bisa dilakukan untuk menyelamatkan umat manusia tanpa bantuan siapapun, sebagaimana Dia menciptakan dunia ini. Namun justru Allah yang Maha Kuasa itu mengundang kita untuk terlibat dalam karya keselamatannya. Yesaya yang najis bibirnya disentuh oleh Serafim dan kesalahannya dihapuskan, menjadi nabi yang luar biasa. Petrus, seorang nelayan biasa yang merasa dirinya berdosa, disentuh oleh kekudusan Yesus dan menjadi rasul yang mengubah banyak hidup. Ini semua adalah tanda bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja,” ujar Uskup Anton.
Dia juga melanjutkan dengan menceritakan kisah hidup Uskup Agus, yang lahir di sebuah kampung kecil di Kalimantan Barat, tepatnya di Kampung Lintang, Sanggau, pada 22 November 1949.
Uskup Agustinus, yang berasal dari keluarga sederhana, mengawali perjalanan imannya sebagai seorang imam pada tahun 1977, sebelum kemudian diangkat menjadi Uskup Sintang pada tahun 2000. Pada tahun 2014, beliau terpilih menjadi Uskup Agung Pontianak.
“Anak kampung yang sering menghadapi berbagai kesulitan dalam hidupnya, akhirnya dipilih oleh Tuhan untuk menjadi Uskup Agung Pontianak. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak memilih orang hebat, tetapi siapapun bisa dipilih oleh Tuhan. Bahkan seorang anak kampung pun punya kesempatan yang sama,” ungkap Uskup Anton.
Salah satu kutipan yang mengesankan dari homili Uskup Anton adalah saat ia menyampaikan perkataan Uskup Agustinus yang pernah mengatakan, “Saya melihat Tuhan mau memakai siapa saja. Tuhan tidak memilih orang hebat, anak kampung pun punya kesempatan yang sama.”