Mahasiswa Muhammadiyah di Kairo: Toleransi dan Cinta di IDEO Dominikan Kairo Mesir

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Senin, 29 Juli 2024 | 16:44 WIB
Saya Muslim dan Saya Dominikan (2024) (Muhammad Ridho - di Kairo Mesir )
Saya Muslim dan Saya Dominikan (2024) (Muhammad Ridho - di Kairo Mesir )

PONTIANAKGLOBE.COM, Media Center San Agustin|Kairo, Mesir - Senin, 29 Juli 2024 – “Rusia-Ukraina, Palestina-Israel, yang sampai saat ini tak kunjung menemukan titik temu, menjadi hal yang memilukan.

Atau beberapa kasus persekusi terhadap agama minoritas seperti yang terjadi di Tangerang akhir-akhir ini, masih menyisakan PR bagi kita untuk bisa hidup berdampingan dengan perbedaan keyakinan yang ada.

Konflik antar ras seperti di Amerika antara orang berkulit hitam dan putih yang akarnya masih tetap ada hingga sekarang.”

Itu tulisan dari Muhammad Yusmi Ridho, Mahasiswa di Universitas Al-Azhar Mesir yang terbit di ibtimes.id dengan judul, “Saya Islam dan Saya Dominikan” pada 25/07/2024 baru-baru ini.

Menurutnya, konflik yang terjadi sungguh sangat menjauhkan manusia dari nilai esensial yang ada dalam dirinya sendiri, karena manusia yang seharusnya dapat menjaga hak dan nilai tersebut justru masih menjadi pelaku atas konflik yang ada karena ego sectoral, ego kelompok dan ego golongan masing-masing.

Dia juga mengutib bahwa ribuan tahun lalu ada seorang filsuf yunani bernama Diagones yang menawarkan sebuah pandangan hidup yang melihat dunia dengan kacamata lebih luas, sebuah pandangan kosmosentris yang menolak anggapan bahwa kita berasal dari kota tertentu.

Dia di tanya dari mana sejatinya ia berasal? Lalu Diagones menjawab dengan lugas bahwa dirinya merupakan “Warga Dunia”, dari jawaban itu kita bisa belajar bahwa sejatinya kita harus memaknai hidup ini dengan  kacamata lebih luas, alih-alih mempersempitnya dengan label-label yang erat kaitannya dengan ego kelompok, golongan atau sektor.

Melalui kesadaran bahwa manusia berasal dari tempat yang sama yaitu dunia, akan memberikan implikasi bahwa kita sebetulnya merupakan anak kandung dari dunia yang kita tinggali saat ini, maka dengan itulah sikap kemanusiaan, persaudaraan antar manusia akan benar-benar terwujud.

“Ide hidup berdampingan dengan melepas label dengan menyisakan fakta bahwa saya manusia, kamu manusia dan kita manusia, saya kira perlu terus digalakkan untuk meredam kejadian yang mencederai nilai kemanusiaan. Hal itu yang saya lihat terus digalakkan sebagai wacana dan tindakan di lembaga IDEO Kairo ini,” tulisnya (25/07).

Saya Muslim dan saya Dominikan

Berangkat dari kasus yang sama dengan yang dirasakan oleh mbak Lili, Muhammad Yusmi Ridho sebagai orang Islam Muhammadiyah merasa sangat dihargai dan jauh dari sikap-sikap diskirminasi atau bahkan ada upaya kristenisasi.

Justru dengan fasilitas yang ada di lembaga tersebut, dia semakin semangat untuk belajar dan menelaah beberapa buku di sana.

“Alih-alih saya dipaksa untuk masuk agama Katolik, saya justru merasa semakin meyakini keimanan saya dengan fasilitas yang disediakan perpustakaan untuk membaca dan mempelajari agama saya sendiri,” katanya dalam tulisan itu, (25/07).

Di tengah berbagai konflik dan perpecahan yang kerap mewarnai berita dunia, contoh kecil namun berharga mengenai toleransi dan penghormatan antar umat beragama muncul dari dua lokasi yang berbeda namun saling terhubung: Universitas Muhammadiyah Surakarta dan lembaga penelitian IDEO Kairo milik Ordo Dominikan Katolik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

X