Mahasiswa Muhammadiyah di Kairo: Toleransi dan Cinta di IDEO Dominikan Kairo Mesir

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Senin, 29 Juli 2024 | 16:44 WIB
Saya Muslim dan Saya Dominikan (2024) (Muhammad Ridho - di Kairo Mesir )
Saya Muslim dan Saya Dominikan (2024) (Muhammad Ridho - di Kairo Mesir )

Tulisan ini dia rangkai karena terinspirasi dari artikel IBTimes berjudul “Saya Kristen, dan Saya Muhammadiyah”, yang mengisahkan seorang mahasiswi Kristen bernama Lili di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), (25/07).

Lili, meski merupakan minoritas di kampus yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, merasakan suasana inklusif dan penghargaan terhadap hak-haknya sebagai mahasiswa.

Menurut Lili, ia tidak mengalami diskriminasi, dan semua hak sebagai mahasiswa diperolehnya tanpa adanya pembedaan.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Muhammad Yusmi Ridho, Mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Mesir yang terbit di ibtimes.id dengan judul, “Saya Islam dan Saya Dominikan”,  saat mengikuti pelatihan di IDEO Kairo, lembaga penelitian yang didirikan oleh Ordo Dominikan Katolik, (25/07).  

Selama sebulan mengikuti pelatihan bertema “Agama dan Ilmu Kemanusiaan”, Muhammad Yusmi Ridho merasa dihargai dan diterima tanpa adanya diskriminasi.

Bahkan, suasana yang tercipta di lembaga ini penuh dengan sikap saling menghormati dan toleransi, baik antara penyelenggara maupun peserta pelatihan.

IDEO Kairo memang mengusung wacana dialog antar agama sebagai salah satu fokus utamanya.

Lembaga ini terbuka bagi semua orang tanpa memandang latar belakang agama atau etnis, dan memberikan fasilitas serta pelayanan yang sangat baik kepada semua peserta.

Selama pelatihan, Muhammad Yusmi Ridho tidak merasakan adanya perbedaan perlakuan, meskipun ia adalah seorang Muslim Asia di antara peserta lain yang kebanyakan adalah orang Arab beragama Kristen dan Islam.

Fenomena ini menggarisbawahi pentingnya penerapan sikap kemanusiaan yang mendalam di tengah dunia yang kian mendegradasi nilai-nilai kemanusiaan.

Konflik global seperti ketegangan Rusia-Ukraina, Palestina-Israel, dan kasus persekusi agama minoritas seperti yang terjadi di Tangerang menjadi pengingat bahwa kita masih jauh dari pencapaian toleransi sejati.

Begitu pula dengan konflik rasial di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa masalah ini masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar.

Filsuf Yunani kuno, Diogenes, pernah menyatakan bahwa ia adalah “Warga Dunia” ketika ditanya dari mana asalnya. Pandangan kosmosentris ini mengajak kita untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas, melampaui batas-batas label yang seringkali mempersempit pandangan kita tentang kemanusiaan.

Pengalaman di IDEO Kairo, seperti yang diungkapkan penulis, menunjukkan bahwa melalui sikap terbuka dan komunikasi yang baik, kita dapat memupuk persaudaraan dan saling menghormati.

Dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan yang menyediakan literatur dari berbagai bahasa dan mengadakan seminar bersama, penulis merasakan betapa pentingnya dialog dan kerjasama dalam menjaga nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

X