pontianak-insights

Guru Besar Untan Sebut MATA PANDAWA Berpotensi Jadi Cagar Biosfer UNESCO

Minggu, 5 Juli 2026 | 07:14 WIB
Prof Dr Ir H Gusti Hardiansyah MSc QAM IPU, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura sekaligus Ketua ICMI Orwil Kalimantan Barat, memaparkan potensi kawasan MATA PANDAWA sebagai Calon Cagar Biosfer UNESCO yang diharapkan mampu mendorong pembangunan berkelanjutan. (Dok. Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), Prof Dr Ir H Gusti Hardiansyah MSc QAM IPU, menilai bentang alam MATA PANDAWA yang mencakup Selat Karimata, Taman Nasional Gunung Palung, dan Hutan Lindung Mendawak memiliki potensi besar untuk diusulkan sebagai Cagar Biosfer UNESCO.

Menurut Ketua ICMI Orwil Kalimantan Barat tersebut, kawasan itu memiliki kekayaan ekosistem yang saling terhubung, mulai dari laut, hutan hujan tropis, gambut hingga mangrove.

Baca Juga: Lahirnya Persekolahan Katolik Nyarumkop, Ketika Hutan Belantara Menjadi Taman Pendidikan

Keunggulan tersebut dinilai memenuhi konsep pengelolaan lanskap berkelanjutan yang menjadi salah satu syarat kawasan cagar biosfer.

"MATA PANDAWA bukan sekadar kawasan konservasi, tetapi sebuah lanskap kehidupan yang menyatukan hutan, laut, gambut, mangrove, satwa liar, sungai, desa, dan manusia dalam satu ekosistem," ujar Gusti Hardiansyah, Sabtu (4/7/2026).

Lanskap Terpadu Bernilai Global

Ia menjelaskan, konsep Cagar Biosfer UNESCO mengedepankan keseimbangan antara konservasi, penelitian, pendidikan, dan pembangunan ekonomi masyarakat melalui tiga zona utama, yakni area inti, zona penyangga, dan area transisi.

Dalam konteks Kalimantan Barat, Selat Karimata menjadi penghubung penting antara Laut China Selatan dan Laut Jawa sekaligus memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi.

Baca Juga: Menembus Belantara Nyarumkop, dari Hutan Rimba Lahir Mercusuar Pendidikan Katolik di Kalimantan

Sementara itu, Taman Nasional Gunung Palung seluas sekitar 108.044 hektare dikenal sebagai habitat penting orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dengan ekosistem yang lengkap, mulai dari hutan mangrove hingga pegunungan.

Di sisi lain, Hutan Lindung Mendawak yang membentang sekitar 500 ribu hektare memiliki fungsi strategis sebagai bentang lahan gambut penyimpan air dan karbon yang sangat penting bagi keseimbangan lingkungan Kalimantan Barat.

Menurut Gusti, ketiga kawasan tersebut saling melengkapi dan membentuk satu kesatuan lanskap yang layak memperoleh pengakuan dunia.

Bukan Sekadar Mengejar Status UNESCO

Gusti menegaskan, usulan Cagar Biosfer UNESCO tidak boleh dipahami hanya sebagai upaya memperoleh pengakuan internasional.

"Label UNESCO tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nilai utamanya justru terletak pada bagaimana kawasan tersebut mampu menjadi platform pembangunan manusia berbasis lanskap," katanya.

Halaman:

Tags

Terkini

Ahli Toksinologi Ungkap Dokter Icha Berulang

Selasa, 30 Juni 2026 | 23:08 WIB