pontianak-insights

ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS: Cara Paus Lawan Kebangkitan 'Menara Babel'

Senin, 25 Mei 2026 | 23:06 WIB
Romo Markus Solo Kewuta SVD saat berada di Vatikan. (Dok. Pontianak Globe)

Kebesaran manusia terletak bukan pada kemampuan manusia untuk melewati keterbatasan-keterbatasannya dengan bantuan teknologi, tetapi pada kapasitas untuk menjalin hubungan, cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab. Penyakit, kegagalan, kerentanan, dan kematian bukanlah sekadar kekurangan, tetapi merupakan aspek penting dari keberadaan manusia.

Baca Juga: Makan Baraje' Meningkatkan Iman dalam Persaudaraan

Ensiklik Abad ke-21
Perspektif Paus Leo XIV tentang seni dan budaya juga patut diperhatikan. Ia berpendapat bahwa hal-hal ini melindungi umat manusia dari "menormalisasi kejahatan."

Paus mengutip karya-karya yang bernilai profetik, termasuk Simfoni Kesembilan Beethoven sebagai ekspresi kerinduan akan persatuan, dan novel Thomas Keneally "Schindler's List," yang diadaptasi menjadi film oleh Steven Spielberg, sebagai peringatan terhadap pelupaan.

Namun sejarah tampak bukan hanya sebagai katalog tindakan kekerasan kita, tetapi juga sebagai bukti kemanusiaan. Paus Leo mengenang tokoh-tokoh yang telah mengubah dunia menjadi lebih baik.

Selain Martin Luther King Jr. dan Nelson Mandela, ia menyebutkan sejumlah besar perempuan, termasuk Bunda Teresa, Maria Montessori, Wangari Maathai, dan Benazir Bhutto. Bersama dengan kutipan dari Gandalf dalam "The Lord of the Rings" karya Tolkien di bab kelima, dokumen tersebut mengungkapkan dirinya sebagai dekrit didaktik yang jelas berakar pada abad ke-21.

Di akhir bab ketiga, Paus Leo XIV secara ringkas merangkum alternatif utama ensikliknya: umat manusia dihadapkan pada pilihan antara dua bentuk kemajuan.

Entah Menara Babel baru akan muncul—secara teknis brilian, tetapi tidak manusiawi. Atau, seperti halnya pembangunan kembali Yerusalem, akan ditegakkan suatu tatanan yang melayani kebaikan bersama, keadilan, dan martabat manusia.

Pada akhirnya, yang terpenting adalah "kasih" yang membimbing tindakan manusia. Oleh karena itu, pembangunan Babel atau Yerusalem dimulai di hati setiap individu.

Dalam ensikliknya, Paus Leo menghindari sekadar mengutuk kecerdasan buatan. Namun, kecerdasan buatan memainkan peran penting, bahkan sangat penting dalam kehidupan manusia ke depannya. Dalam bab kelima, Paus membahas banyaknya perang di dunia. Ia mengkritik normalisasi peperangan dan memperingatkan bahaya penggunaan kecerdasan buatan dalam sistem militer.

Tidak Ada “Perang yang Adil”
Menurut Paus, perdamaian bukan hanya salah satu isu di antara isu-isu lainnya, tetapi sangat penting untuk kebaikan bersama dan merupakan tolok ukur kematangan moral bangsa dan mereka yang berada di posisi tanggung jawab pemerintahan.

Mengingat konflik saat ini, Paus Leo XIV mengambil sikap yang sangat jelas yakni mendukung perdamaian. Oleh karena itu, ia menolak wacana Gereja sebelumnya tentang “perang yang adil” dan sangat menganjurkan solusi damai.

Dalam konteks ini, kecerdasan buatan mengubah tidak hanya kehidupan sehari-hari dan masyarakat, tetapi terutama tata bahasa perang. Konflik hibrida, serangan siber, disinformasi, dan sistem senjata otonom, menurut Paus Leo XIV, membuat kekerasan lebih “praktis,” impersonal, dan kurang bertanggung jawab. Ambang batas untuk menggunakan kekerasan semakin rendah, dan manusia direduksi menjadi data dan elemen sekunder.

Di bawah judul “Budaya Kekuasaan,” Paus Leo XIV pertama-tama menggambarkan perkembangan berbahaya bahwa perang tampak sebagai instrumen politik yang normal.

Bahaya lainnya adalah bahwa ingatan sejarah, misalnya tentang Holocaust dan Perang Dunia memudar, dan algoritma di ranah digital memperburuk polarisasi. Industri persenjataan, sebagai mesin ekonomi, memicu konflik baru dan perlombaan senjata baru, termasuk yang berkaitan dengan senjata nuklir.

Halaman:

Tags

Terkini