ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS: Cara Paus Lawan Kebangkitan 'Menara Babel'

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Senin, 25 Mei 2026 | 23:06 WIB
Romo Markus Solo Kewuta SVD saat berada di Vatikan. (Dok. Pontianak Globe)
Romo Markus Solo Kewuta SVD saat berada di Vatikan. (Dok. Pontianak Globe)

Sistem dengan kecerdasan buatan tampaknya menggantikan manusia dari tanggung jawab mereka. Namun, keputusan dengan konsekuensi yang berpotensi mematikan di masa perang harus tetap berada di bawah kendali manusia.

"Peradaban Kasih" Melawan Segala Sinisme
Paus Leo XIV mengidentifikasi tiga kriteria untuk ini: rantai tanggung jawab yang jelas, waktu yang cukup untuk penilaian moral, dan perlindungan ketat terhadap penduduk sipil.

Lebih lanjut, Paus melihat krisis multilateralisme: hukum internasional dan PBB melemah, dan "hukum rimba" mendominasi. Selain itu, pragmatisme yang salah arah menabur keputusasaan dan keputusan melakukan perang sulit terhindarkan.

Menentang perkembangan ini, Paus Leo sangat menganjurkan "peradaban kasih," yang harus dibangun oleh semua orang, baik dalam skala besar maupun kecil. Paus Leo meminjam istilah ini dari Paus Paulus VI yang mula-mula menciptakannya. Penerapan peradaban kasih masa kini berarti:

1. "Kata-kata yang melucuti senjata": Perdamaian dimulai dengan bahasa, menjauh dari kebencian dan menuju kebenaran, kenyamanan, dan keadilan.

2. "Membangun perdamaian dalam keadilan": Perdamaian sejati bukanlah sekadar gencatan senjata, tetapi buah dari keadilan.

3. "Berfokus pada para korban": Para korban kekerasan harus diperhatikan. Paus mengajak Gereja untuk menjadi suara bagi mereka yang tidak bisa bersuara dan bagi mereka yang terluka.

4. "Memupuk realisme yang sehat": Paus Leo XIV tidak menganjurkan idealisme naif atau fatalisme sinis; sebaliknya, realisme ini mencari jalan yang layak menuju perdamaian.

5. "Menghidupkan kembali dialog dan multilateralisme": Hanya dengan berdialog satu sama lain, solusi dapat ditemukan, baik pada tingkat interpersonal maupun politik, untuk bergerak menuju budaya negosiasi yang sejati. Ini termasuk, khususnya, dialog lintas agama. Paus Leo XIV menekankan perlunya diplomasi dan multilateralisme. Paus melihat PBB memainkan peran penting bagi dunia. Ia juga menyampaikan seruan mendesak untuk berdoa bagi perdamaian, untuk mewujudkannya dalam relasi umat manusia satu sama lain, dan dalam masyarakat.

Di akhir ensikliknya, Paus Leo XIV menekankan bahwa Kristus tetap menjadi ukuran kemanusiaan sejati. Paus merujuk pada Magnifikat Maria: Tuhan berdiri bersama orang-orang kecil, yang lemah. Dalam semangat inilah, "peradaban kasih" dapat tumbuh dan mewujudkan perdamaian sejati.

Apa itu Ensiklik
Ensiklik adalah dokumen ajaran kepausan. Dokumen ini ditujukan kepada Gereja Katolik di seluruh dunia, dan kadang-kadang juga kepada "semua orang yang berkehendak baik," termasuk non-Katolik. Ensiklik memiliki otoritas yang tinggi. Dalam Gereja Katolik, ensiklik dipahami sebagai ekspresi otoritas pengajaran tertinggi Paus, tetapi bukan merupakan pernyataan yang infalibel atau tidak dapat salah dalam pengertian dogmatis. ***

* Penulis adalah Staf Dikasteri Dialog Antaragama. Artikel diambil dan dikaji dari berbagai sumber.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X