"Saya kagum dengan Pontianak dan Kalimantan Barat. Di sini Bhinneka Tunggal Ika benar-benar dilaksanakan dengan baik. Berbeda-beda tetapi tetap satu," ujarnya.
Menurut Prof. Purnomo, keharmonisan itu terlihat dari kerja sama berbagai kelompok masyarakat, termasuk lembaga pendidikan agama yang hidup berdampingan dan saling mendukung.
"Saya bertemu dengan profesor dari sekolah tinggi agama Hindu, sekolah tinggi agama Islam, dan sekarang berada di sekolah tinggi agama Katolik. Ini menunjukkan bahwa keberagaman di Kalimantan Barat bukan hanya slogan, tetapi menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Dia menilai suasana tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam mendukung pembangunan daerah dan menjaga persatuan bangsa.
Potensi Energi Besar untuk Masa Depan Kalimantan
Dalam dialog bersama para dosen dan mahasiswa, Prof. Purnomo juga menyinggung peluang besar yang dimiliki Kalimantan Barat di sektor energi.
Sebagai Penasihat Presiden Bidang Energi, ia menjelaskan bahwa kawasan Natuna Timur atau D-Alpha Natuna memiliki cadangan gas yang sangat besar dan berpotensi menjadi sumber energi strategis bagi Kalimantan.
Menurutnya, gagasan penyaluran gas dari Natuna menuju Kalimantan Barat telah lama dibahas dan sangat mungkin direalisasikan.
"Tadi saya juga menyampaikan kepada Bapak Gubernur bahwa aspirasi daerah perlu terus diperjuangkan. Kalau gas besar dari Natuna Timur itu bisa ditarik ke Kalimantan Barat, daerah ini akan berkembang sangat pesat," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa pasokan energi tersebut tidak hanya akan memenuhi kebutuhan Kalimantan Barat, tetapi juga dapat mendukung kebutuhan listrik Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Gas itu sangat besar, terbesar di kawasan regional ini. Kalau bisa dikembangkan, kita dapat membangun pembangkit listrik, memperkuat industri, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih cepat bagi Kalimantan," katanya.
Pendidikan dan Aktualisasi Nilai Kebangsaan
Prof. Purnomo juga menekankan pentingnya membangun sumber daya manusia melalui pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter.
Dia mengapresiasi berbagai kegiatan yang mendorong generasi muda untuk menghidupi nilai-nilai Pancasila dan semangat Kebangkitan Nasional melalui tindakan nyata.
"Yang saya lihat sangat baik adalah bagaimana anak-anak muda diberi ruang untuk melakukan aktualisasi diri. Mereka tidak hanya memahami teori tentang Pancasila dan Kebangkitan Nasional, tetapi benar-benar mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Menurutnya, pendekatan seperti itu perlu terus dikembangkan oleh berbagai lembaga pendidikan agar lahir generasi yang mampu memadukan pengetahuan, nilai, dan tindakan nyata.