PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Membuat konten menarik dan mendalami teknologi informasi serta AI, baru setengah jalan perjuangan pengelola media Gereja Katolik.
Tantangan berikutnya berupa membangun jejaring diseminasi yang luas.
Pegiat Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) di setiap keuskupan ditantang dua hal sekaligus, yakni memperkuat pondasi media internal sambil memperluas relasi dengan jaringan media arus utama.
Utusan 18 Komsos Keuskupan se-Indonesia membahas tantangan ini di hari kelima Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, Sabtu (30/05/2026). Saat yang sama, para peserta muda sedang menjalani review hasil praktik produksi konten berupa podcast, video pendek, konten kreatif, dan liputan jurnalistik.
Sekretaris Komisi Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng, menyebut pegiat komunikasi tak boleh mengurung diri dalam “menara gading” media internal semata. Relasi eksternal dengan media arus utama wajib terbangun secara erat sehingga tercipta sinergitas.
“Ada kalanya suatu eksposur konten cukup di kalangan internal media paroki atau keuskupan. Namun banyak juga konten bernilai universal yang memerlukan sinergi dengan media arus utama. Bahkan untuk kalangan manca negara. Banyak kekayaan Gereja di Indonesia layak diperkenalkan kepada semua bangsa. Maka Komsos perlu berpikir menyediakan konten berbahasa asing, minimal bahasa Inggris,” ujar Agoeng.
Jurnalis Katolik yang juga berkontribusi di forum pimpinan komsos tersebut, Gabriel Abdi Susanto, menegaskan diseminasi publikasi penting untuk memperkenalkan karya-karya Gereja Indonesia tingkat nasional hingga internasional. Menurut dia, banyak karya dan kegiatan Gereja yang bernilai, namun belum dikenal luas karena kurang publikasi konsisten.
“Harus jaga konsistensi produksi konten. Aktif membagikan publikasi itu agar memperoleh penyebaran lebih luas. Dengan informasi rutin dan konsisten, mudah membangun loyalitas pembaca,” ujar Abdi Susanto.
Pemanfaatan media sosial juga efektif untuk memperluas jangkauan pembaca. Pendekatan story telling disarankan untuk menjangkau pembaca daerah, karena sifatnya menarik dan mudah dicerna.
Jurnalis senior The Jakarta Post, Kornelius Purba, mengatakan, jurnalisme Gereja tak sekadar menyampaikan informasi menarik, tetapi juga menyuarakan harapan. Ini sebagai cara memperkuat nilai kemanusiaan sekaligus pewarta “kabar baik” bagi dunia.
“Wartakanlah nilai-nilai Kristiani kepada dunia melalui karya jurnalistik yang humanis dan berorientasi pada good news,” kata Kornelius Purba.
Dia memotivasi pegiat Komsos agar membangun konten dari sudut pandang “orang kecil”, sehingga maknanya lebih mendalam, menyentuh, dan mampu membangun empati pembaca.
“Saya harap para pastor, pegiat Komsos, dan umat lebih aktif membagikan kisah-kisah inspiratif dari lingkungan Gereja maupun masyarakat. Wartakan kepada dunia melalui cerita-cerita yang membawa pengharapan,” ujar Kornelius Purba.
Bedah Karya
Di kelas jurnalistik, hasil liputan praktik ditayangkan, dibaca, dan dibedah oleh Abdi Susanto sebagai mentor.
Kelemahan umumnya para pemula ada pada kesulitan menyusun kalimat, memahami struktur tulisan, mengolah hasil wawancara dan reportase, sampai pada menulis judul.
Artikel Terkait
Penutupan Temu KOMSOS Regio Kalimantan, Dalam Balutan Rekreasi di Sungai Mahakam
Pesan Ketua Komsos KWI: Wartawan Katolik Jangan Terjebak Gaya Medsos, Kembali ke Jati Diri
Pontianak Tuan Rumah Perayaan Komsos Nasional, Gereja Katolik Ingatkan Ancaman AI terhadap Martabat Manusia
Mgr Didik Ingatkan Komsos Harus Menghadirkan Wajah dan Suara Gereja bagi Masyarakat
Kebisingan Digital, Uskup Didik Ingatkan Komsos Tak Sekadar Pengguna Teknologi
Gempuran Teknologi Kecerdasan Buatan Intai Media Gereja, Pegiat Komsos Harus Berbenah