Karena itu, berbagai komunitas budaya di Kalimantan Barat terus berupaya menjaga bahasa daerah mereka agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Baca Juga: Saprahan dan Bepapas, Kearifan Melayu yang Menyatukan Orang dalam Kebersamaan
Upaya tersebut tidak hanya dilakukan oleh komunitas Hakka, tetapi juga oleh berbagai kelompok etnis lain yang hidup di provinsi ini.
Kunjungan peserta PKSN XIII ke Rumah Hakka menjadi pengingat bahwa keberagaman Indonesia tidak hanya terlihat dari pakaian adat atau bangunan tradisional.
Keberagaman juga hidup dalam bahasa-bahasa yang masih digunakan dan diwariskan hingga hari ini.
Di tengah arus globalisasi, suara bahasa Hakka yang masih bergema di Pontianak menjadi bukti bahwa identitas budaya dapat tetap bertahan ketika masyarakat memilih untuk merawatnya bersama. ***
Artikel Terkait
Kampung Caping Pontianak, Saat Budaya Melayu dan Kepedulian Lingkungan Bertemu
Pegiat Media Gereja Belajar 'Wajah dan Suara' Lokal dari Tiga Etnis Kalimantan Barat
Rumah Hakka Pontianak, Merawat Persatuan Lewat Warisan Budaya
Rumah Betang, Warisan Dayak yang Mengajarkan Arti Hidup Bersama
Saprahan dan Bepapas, Kearifan Melayu yang Menyatukan Orang dalam Kebersamaan
Dayak, Melayu, dan Hakka: Pelajaran Harmoni dari Kalimantan Barat