“Di sini nanti akan dibuatkan jalan, pak. Menuju kebun di arah sini. Kita sudah mengurus izin resminya.”
“Dan di sini?” tanya La’aro, menunjuk tanah di bawah telapak kakinya.
“Tanah, pak,” jawab lelaki itu sambil menahan senyum.
“Jangan kau kira ini tanah semata,” suara La’aro terdengar tegas.
Lelaki berhelm itu hanya tersenyum tipis. Seperti mengabaikan nada protes tetua yang dihormati seisi kampung itu. Ia seorang petarung, yang terbiasa dengan penolak, dan hampir selalu memenangi konflik, tanpa banyak berdebat. Ia terbiasa mengacuhkan penolakan dengan berpura-pura tak mendengar.
“Kami datang membawa masa depan, pak.”
La’aro menatapnya tajam.
Ia tidak melihat masa depan di atas kertas itu.
Ia melihat sesuatu yang diputuskan tanpa pernah diminta izin sebagaimana mestinya.
***
Anak itu semakin lemah. La’aro berjanji dalam hati untuk berikhtiar lagi. Dicobanya pada malam berikutnya. Ia mengulang segala hal yang dketahuinya; ramuan, mantra, gerakan, dan tarikan napas. Ia menempelkan telapak tangannya ke dada anak itu. Lalu mengelus lantai uma, seolah mencari jalur untuk menghubungkan tubuh kecil itu dengan sesuatu yang lebih kuat dari sakitnya.
Namun jalur itu seperti telah runtuh.
Ia berhenti. Peluh membasahi tubuhnya. Membuat tato di tubuhnya mengilap dalam cahaya obor.
“Simagre-nya tidak tersesat,” serunya pelan, seperti enggan.
Ibunya menghela napas panjang.
Artikel Terkait
Contoh Puisi Memperingati Hari Guru Nasional
Contoh Puisi Perayaan Imlek 2024 oleh Siswa Kelas 1 SD, agar Perayaan Imlek 2024 Tahun Naga Kayu Semakin Semarak
Contoh Puisi Perayaan Imlek 2024 oleh Siswa Kelas 1 SD, Sederhana Namun Penuh Makna dan Nilai Persahabatan
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Lomba Tarung Puisi Jelang HUT RI Ke-80
Kunang-kunang, Tonggeret, dan Puisi