Sikirei

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Sabtu, 9 Mei 2026 | 06:30 WIB
Foto ilustrasi - Portrait of an elderly tribesman in traditional attire, showcasing cultural heritage in West Sumatra. (Pexels @Oncy Oni)
Foto ilustrasi - Portrait of an elderly tribesman in traditional attire, showcasing cultural heritage in West Sumatra. (Pexels @Oncy Oni)

Cerpen: Willy Wedhanta

Malam menjelang dalam senyap di Pulau Siberut. Kabut menggantung di antara pepohonan sagu, dan hutan bernapas serupa raga yang tak sepenuhnya terlelap.

Di beranda uma, rumah tradisional tempat manusia dan roh saling berpas-pasan tanpa saling terganggu, La’aro duduk termenung. Ia seorang sikerei. Tubuhnya dipenuhi tato, bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah peta. Garis-garis yang terlukis di sekujur tubuhnya mengikatnya pada sungai, akar, dan jalan tak kasatmata yang hanya bisa dilalui jiwa. Di pinggangnya tergantung beraragam dedaunan, ramuan obat yang mengering, namun masih menyimpan ingatan hutan.

Setelah menuruni anak tangga, ia menjejak pada permukaan tanah. Lembap. Namun di balik kelembapan itu, ada sesuatu yang retak, sesuatu yang tak lagi bisa dibacanya dengan sempurna.

Seorang anak dibawa kepadanya malam itu. Tubuhnya panas, tetapi ia menggigil kedinginan, tatapan matanya kosong, serupa perahu kehilangan arusnya.

“Dia memanggil sesuatu dalam tidurnya,” kata ibunya dengan lirih. “Tetapi bukan nama kami.”

Mengingau?

La’aro menangguk. Ia tidak bertanya lebih lanjut.

Ia mengunyah beberapa lembar daun, menghaluskannya dengan air liur, lalu mengoleskannya ke dada anak itu. Semacam param. Sebuah lonceng kecil digoyangkannya perlahan, menimbulkan bunyi gemerincing yang berulang, seperti ketukan pada pintu yang samar di pendengaran.

Sejurus kemudian, napas lelaki paruh baya itu mulai berubah. Lebih pendek. Seperti tersengal. Tubuhnya pun mulai bergerak dengan luwes; bukan menari, melainkan seperti ditarik oleh kekuatan tertentu. Selalu begitu. Seorang sikerei tidak hanya memanggil roh. Ia sekaligus menjadi jalan. Sayangnya, malam itu, tidak ada yang datang.

Dulu, setiap kali sikerei melaksanakan ritual pengobatan, atau untuk tujuan apa pun itu, hutan selalu menjawab dengan lugas. Setiap daun memiliki arah. Setiap jejak memiliki arti. Setiap penyakit memiliki asal yang dapat dilacak dan ditelusuri.

Kini tanda-tanda itu mengabur. Burung dan satwa lainnya menjauh. Sungai yang jernih berubah keruh. Setiap pembukaan lahan, tidak lagi menghormati ritual. Orang-orang menyebutnya perubahan. Tetapi bagi La’aro, itu sebuah kehilangan.

***

Sudah lama perusahaan menginginkan lahan dan hutan. Selama ini, masyarakat kompak menyatakan penolakan. Tetapi godaan kemajuan dan perubahan, menyebabkan pertahanan itu jebol juga akhirnya. Satu dua oknum mulai berhubungan dengan pejabat dan orang suruhan perusahaan. Membukakan jalan bagi pemegang izin dan alat berat. Berbekal surat rekomendasi dan peta, mesin-mesin penghancur meraung, meluluhlantakkan hutan keramat.

Suatu siang, La’aro berdiri di tepi rimba, ketika seorang lelaki, dengan pakaian PDL dan bersepatu boot, mengenakan helm kuning, menunjuk garis di atas selembar kertas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X