Usai Dilantik Jadi Tenaga Ahli DPN, Noe Letto Tegaskan Bukan Pembuat Kebijakan dan Bantah Masuk Jalur Politik

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 22 Januari 2026 | 15:59 WIB
Tokoh publik sekaligus artis, Noe Letto menjelaskan perannya usai dilantik jadi tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN). (Dok. Instagram.com/@sabrangmdp_official)
Tokoh publik sekaligus artis, Noe Letto menjelaskan perannya usai dilantik jadi tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN). (Dok. Instagram.com/@sabrangmdp_official)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Pelantikan tokoh publik sekaligus musisi Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) memantik perhatian luas publik. Sebagian masyarakat menilai langkah tersebut tak lepas dari rekam jejak pemikiran dan kompetensi yang selama ini ia tunjukkan di ruang publik.

Noe Letto diketahui termasuk dalam 12 tenaga ahli DPN yang dilantik langsung oleh Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, pada Kamis ,(16/1/2026). Sejak itu, perbincangan publik pun berkembang, mulai dari soal peran, kapasitas, hingga tudingan keberpihakan politik.

Baca Juga: Dituntut 1 Tahun Penjara Usai Ikut Demo Agustus 2025, Rifa Rahnabila Tegaskan Tak Pernah Berniat Menyerang Aparat

Melalui kanal YouTube pribadinya, Sabrang MDP Official, pada Kamis, 22 Januari 2026, Noe menegaskan bahwa posisinya sebagai Tenaga Ahli tidak berkaitan dengan pembuatan kebijakan negara.

Ia menyebut perannya sebatas memberi masukan dan rekomendasi berbasis analisis terhadap situasi yang dihadapi bangsa.

"Tenaga Ahli itu enggak buat peraturan. Tenaga Ahli itu memberi masukan kepada pemerintah," kata Noe.

"(Hal itu) terhadap situasi, risiko, dan rekomendasi. Jadi ini sebagai indra mata, akal, telinga, apa sih yang terjadi? Harusnya gimana sih untuk bisa memperbaiki situasi?" tambahnya.

Noe menjelaskan, aktivitas memberi masukan kepada negara sejatinya telah lama ia lakukan melalui berbagai forum dialog dan ruang diskusi publik. Perbedaannya kini, peran tersebut dijalankan dalam wadah kelembagaan resmi negara.

Putra budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun itu juga menyebut bahwa perubahan simbolik, seperti mengenakan peci dan dasi, hanyalah bagian dari proses eksperimen peran yang sedang dijalaninya.

Di sisi lain, Noe mengaku menyadari adanya keresahan serta kritik publik terhadap penunjukan dirinya sebagai Tenaga Ahli DPN. Ia pun merasa perlu memberi penjelasan, terutama kepada komunitas Maiyah yang selama ini menjadi ruang utama perjalanannya.

"Tapi pertama saya pengen meng-address untuk teman-teman Maiyah," terangnya.

"Posisi saya tidak mengubah apapun sama sekali, Maiyahan saya tetap Maiyahan posisinya. Karena itu yang primer, itu nomor satu," ucap Noe.

Menanggapi anggapan bahwa pelantikannya mencerminkan keberpihakan politik tertentu, Noe membantah tegas tudingan tersebut. Ia menegaskan tidak berada di bawah kepentingan tokoh atau kekuatan politik mana pun.

"Jadi tenang aja. Kalau di bawah Bahlil, di bawah siapa segala macam. Kita enggak di bawah siapa-siapa," tegas Noe.

Ia juga membedakan secara jelas antara negara dan pemerintah. Menurutnya, pemerintah merupakan entitas yang bergerak dalam siklus politik jangka pendek, sementara negara memiliki kepentingan jangka panjang yang melampaui periode kekuasaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Rekomendasi

Terkini

X