"Oke, soal masuk sistemnya gitu. Jadi yang saya pandang adalah kita masuk sistem negara untuk membantu pemerintah agar tetap lurus di dalam bangsa," terangnya.
Selain itu, Noe turut menanggapi kritik mengenai kompetensinya di bidang pertahanan. Ia menilai bahwa pertahanan negara tidak hanya berkutat pada senjata atau konflik fisik, melainkan juga mencakup ancaman non-militer yang bersifat struktural dan kultural.
Ia menyoroti fenomena disinformasi, runtuhnya kepercayaan publik, hingga perpecahan sosial sebagai bentuk ancaman serius yang dapat memicu apa yang ia sebut sebagai perang kognitif.
"Perang kognitif itu gimana sih? Perang kognitif itu berhubungan dengan yang kamu pakai sehari-hari, itu bisa menghancurkan negara," tutur Noe.
"Contohnya seperti kita sekarang ini menurutmu baik-baik saja? Kita terpecah belah satu sama lain, susah banget kok percaya satu sama lain," sambungnya.
Baca Juga: Fenomena Cuaca Ekstrem, Puting Beliung Hantam Pasar Karangpandan Karanganyar
Menurut Noe, negara perlu memberi perhatian serius terhadap ancaman perang kognitif karena hingga kini belum terdapat parameter yang jelas untuk memulihkan kepercayaan sosial di tengah masyarakat.
"Kita tidak punya parameter, bagaimana kita bisa mempercayai satu sama lain. Inilah kenapa eksperimen ini harus dilakukan," tandasnya.***