Arie Kriting Menjelaskan Batas Aman Komedi Soal Agama

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Selasa, 20 Januari 2026 | 08:44 WIB
Komika Arie Kriting ungkap di balik layar materi komedi tentang agama. (Dok. YouTube/Mahfud MD)
Komika Arie Kriting ungkap di balik layar materi komedi tentang agama. (Dok. YouTube/Mahfud MD)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Komika Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke kepolisian oleh sejumlah pihak atas materi stand up comedy yang dibawakannya dalam acara Mens Rea. Hingga kini, laporan dugaan penistaan agama terhadap Pandji tercatat masuk ke Polda Metro Jaya, Polda DIY, dan Polresta Malang.

Di tengah derasnya laporan tersebut, mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menilai tudingan penistaan agama terhadap Pandji tidak memiliki landasan hukum yang kuat.

Baca Juga: Keluarga Minta SAR Dimaksimalkan Korban Pesawat Jatuh, Usai Klaim Aktivitas Smartwatch

Mahfud MD menjelaskan bahwa ketentuan mengenai penodaan agama di Indonesia masih merujuk pada Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 yang kemudian dikuatkan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.

“Materi lawakan yang menimbulkan gugatan atau laporan penodaan agama, memecah belah bangsa, itu juga tidak bisa," ujar Mahfud MD dalam siniar Ruang Sahabat yang tayang di kanal YouTube miliknya, dikutip pada Senin, 19 Januari 2026.

“Karena kalau dia katakan penodaan agama di Undang-Undang penodaan agama yang sekarang masih berlaku, pasal-pasalnya diberlakukan di Penpres Nomor 1 Tahun 1965 yang dikuatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969,” lanjutnya.

Dalam siniar tersebut, Mahfud MD juga ditemani oleh komika Arie Kriting yang turut membahas batasan materi komedi, khususnya ketika bersinggungan dengan isu agama.

Arie Kriting menekankan bahwa para komika menyadari Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya memegang nilai-nilai keagamaan dengan kuat, sehingga ada kesadaran kolektif untuk tidak sembarangan mengangkat materi sensitif.

“Agama itu menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Itu harus kita pahami juga,” ucap Arie Kriting.

“Kita juga nggak bisa seenaknya tuh untuk bermain-main di ranah tersebut. Sangat besar untuk kesadaran itu,” imbuhnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam praktiknya, para komika menghindari menjadikan ritual atau tata cara ibadah sebagai bahan komedi, termasuk ritual dari agama yang dianutnya sendiri.

“Ritual ini kan sesuatu yang sifatnya mutlak, kalau dalam Islam mungkin syariat ya. Kemudian kalau Kristen ada beberapa tata cara beribadah, Hindu, Buddha mereka juga seperti itu,” tambahnya.

Baca Juga: Tangis Ayah di Aceh Utara: Gendong Anak Sakit ke Posko Kesehatan

“Nah, itu kita pasti akan sedikit enggan berkomedi di ranah itu. Bahkan meskipun itu agama kita sendiri. Misalnya saya Islam, kemudian berkomedi tentang Islam,” terangnya.

Namun demikian, Arie menilai materi komedi masih dimungkinkan ketika menyentuh kebiasaan sosial yang berkembang di masyarakat dan tidak berkaitan langsung dengan ritual ibadah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X