PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TENGAH -- Kondisi akses jalan di sejumlah wilayah Aceh Tengah masih menyisakan ancaman serius bagi keselamatan warga. Hingga kini, beberapa jalur penghubung antardesa maupun jalan utama belum sepenuhnya pulih usai diterjang banjir dan tanah longsor.
Salah satu titik krusial berada di Desa Segene Balik, Kecamatan Kute Penang, Kabupaten Aceh Tengah. Jembatan gantung yang menghubungkan desa tersebut kini hanya menyisakan kerangka besi, namun tetap terpaksa digunakan warga untuk beraktivitas.
Baca Juga: Virdian Aurellio: Bencana Bukan Sekadar Musibah, Ada Ulah Manusia
Sebuah video yang diunggah akun Instagram @lingkaran_gayo pada Senin (12/1/2026), memperlihatkan anak-anak sekolah meniti jembatan tersebut dengan penuh kehati-hatian. Mereka tampak berpegangan erat pada sisi jembatan demi bisa menyeberang.
Video itu telah diputar lebih dari 38 ribu kali dan menuai perhatian warganet. Dalam keterangan unggahan disebutkan, jembatan gantung tersebut menjadi penghubung Desa Segene Balik dengan Desa Atu Gogop, Desa Balik, Desa Belang Balik, dan Desa Kulem Balik.
Tak hanya jembatan, sebagian anak-anak lain dalam video terlihat harus menyeberangi sungai secara langsung. Saat air surut, sungai berubah menjadi hamparan pasir dan batu, meski di beberapa bagian masih dialiri arus air yang cukup deras.
Berdasarkan keterangan unggahan yang sama, jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses bagi sekitar 720 Kepala Keluarga di Desa Segene Balik. Selain menjadi jalur utama anak-anak menuju sekolah, akses ini juga digunakan warga untuk menuju kebun dan aktivitas harian lainnya.
Keluhan serupa turut disampaikan warga dalam video yang diunggah akun TikTok @onikaskus. Dalam video tersebut, seorang warga berharap agar jembatan segera mendapat perhatian serius dari pihak terkait.
“Jadi, semua bapak dan ibunya menggendong di air yang mengalir ini. Jadi, saya mohon kepada pihak yang terkait untuk segera membangun jembatan tersebut,” ujarnya, dikutip pada Selasa (13/1/2026).
“Supaya anak-anak kami yang sekolah dan pertanian bisa cepat akses jembatan. Itu harapan kami. Jadi, orang mau pergi ke kebun, melalui lintas ini dan ini satu-satunya aksesnya,” sambungnya.
Baca Juga: Viral Anak Menangis di Kapal Kupang, Tunggu Bapak yang Tertinggal
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah kembali memperpanjang status tanggap darurat bencana sejak 9 Januari hingga 22 Januari 2026. Kebijakan tersebut diambil karena kondisi lapangan yang masih membutuhkan penanganan intensif.
Data pemerintah setempat mencatat, sedikitnya masih ada 26 kampung di Aceh Tengah yang terisolir akibat akses jalan darat terputus dan jembatan yang belum tertangani secara permanen pascabencana akhir November 2025 lalu.
Bahkan, di beberapa titik, warga masih mengandalkan tali sling sebagai satu-satunya sarana mobilitas dan distribusi bantuan.***
Artikel Terkait
Kisah Ketangguhan Warga Aceh Tengah di Tengah Akses Terputus
Tali Sling Jadi Jalan ke Sekolah, Perjuangan Guru di Aceh Tengah Tuai Haru
Jembatan Putus, Relawan Terjatuh ke Sungai di Aceh Tengah
Curahan Hati Pak Reje Aceh Tengah Bikin Salim A Fillah Terpukul
Negara Belum Hadir? Warga Aceh Tengah Bangun Akses Sendiri
Aceh Tengah Disebut Baik-baik Saja, Relawan Tunjukkan Takengon Masih Dikepung Longsor