Negara Belum Hadir? Warga Aceh Tengah Bangun Akses Sendiri

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 8 Januari 2026 | 21:00 WIB
Gotong royong warga Desa Jamat di Aceh Tengah agar terhubung dengan Desa Reje Payung yang terisolir. (Dok. Instagram/serta_lia_gali)
Gotong royong warga Desa Jamat di Aceh Tengah agar terhubung dengan Desa Reje Payung yang terisolir. (Dok. Instagram/serta_lia_gali)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TENGAH -- Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 lalu memutus sejumlah akses jalan darat di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Meski lebih dari sebulan telah berlalu, sejumlah wilayah hingga kini masih terisolir karena jalur penghubung darat belum pulih sepenuhnya.

Salah satu wilayah yang terdampak parah berada di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Untuk mobilitas sehari-hari, warga terpaksa mengandalkan jembatan darurat berupa tali sling yang dibentangkan di atas sungai berarus deras.

Baca Juga: 9 Hari Pencarian, Pendaki Magelang di Gunung Slamet Belum Ditemukan

Jembatan tersebut jauh dari kata aman, namun menjadi satu-satunya akses penghubung antarwilayah.

Kisah perjuangan warga terungkap melalui video yang diunggah akun Instagram @serta_lia_gali pada Rabu (7/1/2026). Dalam unggahan itu, terlihat warga Desa Jamat berjalan kaki sejauh kurang lebih tiga kilometer sambil memikul tali sling yang akan digunakan sebagai jembatan gantung menuju Desa Reje Payung.

“Putusnya jalan menuju desa di Jamat membuat warga satu desa bergotong royong memikul sling sepanjang 125 meter menuju Desa Reje Payung,” tulis keterangan dalam kolom unggahan tersebut.

Video itu juga memperlihatkan anak-anak hingga orang dewasa berjalan beriringan sambil memanggul sling. Salah seorang warga dalam rekaman tersebut mengatakan, “Dari Jamat, mengambil sling untuk penyeberangan ke Reje Payung. Semoga bermanfaat nantinya kalau udah siap, semoga untuk banyak masyarakat dari Jamat ke Reje Payung.”

Banjir bandang dan longsor sebelumnya telah menghancurkan jembatan permanen yang menjadi akses utama warga, sehingga jalur darat kini terputus total. Kondisi tersebut memaksa masyarakat terus berjuang secara mandiri dan bergotong royong untuk keluar dari keterisolasian.

Upaya tersebut bukan tanpa risiko. Pada Selasa, 6 Januari 2026 sekitar pukul 11.00 WIB, tali jembatan darurat sempat putus saat digunakan warga dan relawan untuk menyalurkan bantuan. Beberapa orang terjatuh ke sungai dan sempat hanyut beberapa meter akibat derasnya arus.

Beruntung, warga bersama anggota TNI yang berada di lokasi segera turun tangan melakukan penyelamatan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Berdasarkan keterangan Dinas Kominfo Aceh Tengah, perbaikan tali jembatan langsung dilakukan pada hari yang sama agar aktivitas warga tidak lumpuh total.

Namun, keterbatasan akses tetap menjadi tantangan besar dalam proses pemulihan pascabencana.

Baca Juga: Ahli Taktik dan Motivator, Ini Alasan Binder Yakin pada Herdman

Data Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mencatat, hingga kini masih terdapat sedikitnya 26 desa yang terisolir, termasuk Desa Reje Payung dengan jumlah warga terdampak sekitar 331 jiwa.

Selain itu, Posko Penanganan Bencana Aceh juga melaporkan sejumlah kampung di Kecamatan Linge, Rusip Antara, Ketol, dan Bintang masih sulit dijangkau, sehingga memerlukan penanganan khusus dalam distribusi bantuan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X