Dari Diskusi Unika San Agustin: Begini Kondisi Kalbar dalam 10 Tahun ke Depan, Robini Sebut Kampus Ingin Berkontribusi buat Daerah

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 12 September 2025 | 13:30 WIB
Rektor Universitas San Agustin, Dr RP Johanes Marianto Robini OP, saat memberikan kata sambutannya pada diskusi panel. (Pontianak Globe @Steve Vantax)
Rektor Universitas San Agustin, Dr RP Johanes Marianto Robini OP, saat memberikan kata sambutannya pada diskusi panel. (Pontianak Globe @Steve Vantax)

Ekonomi Global Sulit Diprediksi

Sementara itu Doni Septadijaya, KPerBI Kalbar, menyebutkan saat ini ekonomi global yang semakin sulit diprediksi.

Termasuk tarif resiprokal AS menimbulkan risiko semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca Juga: Wamenpar Ni Luh Puspa Perkuat Diplomasi Pariwisata Indonesia di G20 Afrika Selatan

Namun, ia masih percaya diri bahwa perekonomian Indonesia, termasuk Kalbar akan lebih baik.

Sementara itu Stefanus Akim yang menjadi penanggap kritis dalam diskusi itu mengatakan kondisi hari ini misalnya ada 90 ribu kepala keluarga belum punya rumah mandiri di Kota Pontianak.

Persoalan kesehatan di Kalbar ada campak, ada 37 pasien yang saat ini dirawat di RSUD dr Soedarso. Anak usia 9 bulan-2 tahun paling tinggi, di bawah itu justru kecil.

“Penyebab-nya karena gak mau imunisasi,” papar Stefanus Akim.

Ia juga menanggapi tentang transformasi ekonomi, yaitu ekonomi ekstraktif yang masih menjadi andalan di Kalbar.

“Sistem ekonomi ini sangat bergantung pada pemanfaatan langsung sumber daya alam (SDA), termasuk kegiatan seperti pertambangan, kehutanan, perikanan, dan pertanian, untuk menghasilkan produk mentah,” katanya.

Ia menambahkan, “Sistem semacam ini cenderung fokus pada keuntungan jangka pendek dari ekstraksi SDA tanpa memperhatikan aspek keberlanjutan, sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif seperti kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan ketergantungan ekonomi pada fluktuasi harga komoditas di pasar global.”

Terkait Bonus Demografi, Stefanus Akim, melihat ini sebagai tantangan, termasuk bagaimana dengan kondisi ekonomi, kondisi kebijakan dan aturan pemerintah serta UU.

Ia menyebutkan misalnya UU Ketenagakerjaan yang tak berpihak terhadap kesejahteraan serta nasib karyawan.

“Hari ini Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK kepada karyawan swasta begitu mudah, apalagi bagi pegawai outserching serta karyawan kontrak.” Ungkapnya.

“UU Ciptaker, misalnya, para pekerja seolah-olah gak ada masa depan, sebab kapan pun bisa saja terjadi pemutusan hubungan kerja. Persoalannya kemudian dari waktu ke waktu tercipta generasi sandwich? Demo hari ini, tuntutan mahasiswa dan buruh antara lain menyikapi persoalan perburuhan,” kata Stefanus Akim.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X