Gara-gara Sapi Makan Sapi, Keraton Yogya Tunjukkan Komitmennya kepada NKRI

photo author
Castilo Gagas Panamuan, Pontianak Globe
- Selasa, 21 Maret 2023 | 07:54 WIB
GKR Condrokirono (rompi biru) dan GKR Mangkubumi (Topi putih) berfoto Bersama dengan masyarakat Gunung Kidul, Yogyakarta (Pontianak Globe/Castilo Gagas Panamuan)
GKR Condrokirono (rompi biru) dan GKR Mangkubumi (Topi putih) berfoto Bersama dengan masyarakat Gunung Kidul, Yogyakarta (Pontianak Globe/Castilo Gagas Panamuan)

PONTIANAKGLOBE, YOGYAKARTA -- Gara-gara sapi “makan” sapi, Kraton Yogyakarta menunjukan dan membuktikan komitmennya kepada NKRI yakni menjaga lingkungan dan sekaligus menyejahterakan masyarakat.

Cerita adanya sapi “makan” sapi dikisahkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X di Dusun Ngrejek Wetan, Desa Gombang, Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta pada pekan ini.

Komitmen yang dimaksud adalah menyejahterakan masyarakat tanpa harus merusak lingkungan alam sekitar. 

Mewujudkan kesejahteraan sebagaimana termuat dalam Pembukaan UUD 1945 jangan sampai merusak atau menghancurkan sumber kehidupannya.

Kisah sapi “makan“ sapi itu didengar ratusan orang yang hadir dalam peluncuran Program Pengembangan Ekosistem Green Economy (Ekonomi Hijau) pada Selasa 14 Maret 2023.

Program istimewa ini diselenggarakan berkat kerjasama antara PT PLN, PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI), PT Energy Management Indonesia (EMI), Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Demikian diungkapkan GKR Mangkubumi, puteri sulung Sri Sultan Hamengkubuwono X, di Yogyakarta, Minggu 19 Maret 2023.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Dirut PT PLN Darmawan Prasodjo, Dirut PT PLN EPI Iwan Agung Firstantara, Direktur Biomassa PT PLN EPI Antonius Aris Sudjatmiko, Dirut PT EMI Surya Fitriadi, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, RM Gustilantika Marrel Suryokusumo, Taprof Bidang Ideologi Lemhannas RI AM Putut Prabantoro yang juga Ketua Pengkajian Kerjasama Lemhannas-PT PLN EPI AM Putut Prabantoro dan Taprof Bidang Ekonomi Lemhannas RI Caturida Meiwanto Doktoralina yang mewakili Deputi Pengkajian Strategis Lemhannas RI.

Suasana peluncuran Program Pengembangan Ekosistem Green Economy (Ekonomi Hijau) pada Selasa 14 Maret 2023.
Suasana peluncuran Program Pengembangan Ekosistem Green Economy (Ekonomi Hijau) pada Selasa 14 Maret 2023. (Pontianak Globe/Castilo Gagas Panamuan)

Gunung Kidul adalah lumbung ternak di DIY, demikian Sri Sultan bertutur sebagaimana dikutip GKR Mangkubumi.

Selain dari ternak, masyarakatnya hidup dari pertanian.

Jika pertanian yang ditanam adalah padi, ubi, jagung dll.

Sementara kalau peternakan rumah yang dipelihara masyarakat adalah sapi atau kambing.

Dari sinilah masyarakat Gunung Kidul hidup.

Namun permasalahan klasik muncul ketika musim kemarau datang.

Ternak terancam kelaparan karena tidak ada tumbuhan hijau untuk pakan ternak.

Oleh karena itu tidak mengherankan jika pada musim kemarau di Gunung Kidul ini banyak terjadi peristiwa sapi “makan“ sapi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X