AlPeKaJe Dorong Tindakan Nyata Kaum Muda Wujudkan Keadilan Iklim dan Sosial

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 20 Juni 2025 | 15:27 WIB
Kaum muda peserta seminar AlPeKaJe menyusun rencana aksi sehari-hari yang bisa diterapkan untuk merawat bumi.  (Dok. AlPeKaJe)
Kaum muda peserta seminar AlPeKaJe menyusun rencana aksi sehari-hari yang bisa diterapkan untuk merawat bumi. (Dok. AlPeKaJe)

Kynan dari komunitas Dayak Iban, telah memulai berkarya sejak usia 14 tahun.

Dia mendokumentasikan kearifan tradisi komunitas lokal dalam menjaga alam dan lingkungan hidup melalui karya berupa film.

Baca Juga: Laporkan Menkop Budi Arie soal Fitnah Judi Online, Kader PDIP Diperiksa 29 Pertanyaan di Bareskrim

Pada 2019, Kynan menjadi sutradara termuda yang berpartisipasi dalam Bali International Indigenous Film Festival (BIIFF) dengan filmnya berjudul “Mali Umay”. Dokumenter ini bercerita tentang kearifan local dan penghargaan Masyarakat pada alam dan leluhur.

Di usianya yang 15 tahun, dia tampil sebagai panelis dalam sebuah forum dunia di New York, Amerika Serikat. Saat ini, Kynan, 19 tahun, kuliah di Jakarta, menjadi pemateri seminar ini melalui daring.

“Peran serta masyarakat lokal dan kaum muda dalam memelihara alam, harus diapresiasi, termasuk melalui dokumenter. Tujuannya agar generasi muda tidak lupa asal usul mereka, dan mencintai alam dan lingkungannya sendiri,” tegas Kynan.

Dia menyampaikan prisipnya untuk tidak begitu saja menerima narasi yang dibangun pihak lain tentang komunitas lokal.

Justru, orang lokallah yang harus berkreasi membangun narasi sendiri yang lebih nyata.

Pendekatan seni melalui pembuatan film dipandang sebagai cara kreatif yang bisa menyentuh.

Baca Juga: Suap Hakim Rp4 Miliar Terbongkar demi Bebaskan Ronald Tannur, Pengacaranya Divonis 11 Tahun

Perubahan cara pandang dan tindakan kolektif yang baik, bisa dibangun melalui pendekatan tersebut.

Sementara pembicara lainnya, Azla Sakiya, Duta Lingkungan Hidup Kalbar 2025, menekankan pentingnya kaum muda meninjau ulang cara mereka berbusana.

Semakin banyaknya limbah tekstil yang mencemari bumi, harus memberi pengaruh agar ada perubahan cara.

Gerakan “slow fashion” pun dia kemukakan, yakni tidak berlebihan dalam membeli busana. Cukup membeli sedikit sesuai keperluan, namun berkualitas. Dengan cara ini, bisa menekan produksi berlebihan.

“Mari membentuk komunitas anak muda yang saling berbagi edukasi, tips fashion berkelanjutan, dan bahkan thrifting bareng. Jangan salah, nge-thrift itu selain harganya terjangkau, bisa dapat yang bermerk, lho,” ujar Azla.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X