Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun meninggal dunia setelah mengalami gejala rabies.
Tragisnya, gigitan itu terjadi sejak Januari, namun korban tidak langsung dibawa ke fasilitas kesehatan.
Korban hanya dicuci luka-nya dengan air dan sabun—langkah awal yang benar, namun tak cukup jika tanpa vaksinasi.
"Ketika gejala mulai muncul, baru korban dibawa ke Puskesmas. Sayangnya sudah terlambat," ungkap dr. Pius Edwin Wiwin, Sekretaris Dinkes Landak.
Menurutnya, rabies tidak membunuh dalam hitungan jam.
Butuh waktu, bahkan berbulan-bulan. Inilah jebakan yang sering membuat masyarakat lengah.
Dari penyelidikan epidemiologi, dua korban lain berasal dari Desa Sekais dan Desa Nyiin di Kecamatan Jelimpo.
Seorang remaja berusia 15 tahun dan pria dewasa 45 tahun juga meninggal dunia akibat gigitan anjing yang sempat diabaikan.
Menakar Bahaya Rabies di Kalbar
Kasus-kasus tragis di Landak ternyata hanya sebagian kecil dari persoalan yang lebih besar.
Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat menyebut, sepanjang tahun 2025 sudah terjadi 1.147 kasus gigitan hewan.
Dari jumlah itu, lima korban dinyatakan meninggal dunia, tersebar di tiga kabupaten: Landak (3 kasus), Ketapang (1 kasus), dan Bengkayang (1 kasus).
Yang mencemaskan, 32 persen korban gigitan adalah anak-anak di bawah 10 tahun.
Ini menunjukkan betapa kelompok rentan, terutama anak-anak, harus menjadi prioritas dalam pencegahan rabies.
Artikel Terkait
Daftar Hewan yang Bisa Menyebabkan Rabies Selain Anjing ! Apakah Kucing Bisa Menularkan Rabies ?
Cara Penularan Rabies atau Penyakit Anjing Gila Ternyata Ini. Tak Cuma Efek Dari Gigitan Anjing Rabies
Apakah Orang yang Terkena Rabies Bisa Sembuh ? Wajib Tahu Nih, Perawatan Akibat Digigit Anjing Rabies
Ternyata Rabies Masuk ke Indonesia Sejak Tahun 1884, Begini Alasan Virus Ini Sangat Mematikan
10 Ciri-ciri Anjing Kesayangan Kamu Terkena Rabies, Kenali Agar Kamu Waspada Sejak Dini
Rabies, Penyakit Anjing yang Paling Berbahaya dan Sebabkan Kematian