PONTIANAKGLOBE.COM, BANDUNG -- Mengingat dimensi keamanan global mengalami perluasan yang signifikan, maka setiap negara, tidak terkecuali Indonesia, perlu memberikan respon yang tepat dalam menghadapi berbagai potensi ancaman baru terutama ekses dari perkembangan teknologi digital.
Dalam hal ini, baik TNI, Polri, maupun lembaga-lembaga terkait lainnya perlu memikirkan penyusunan model baru strategi keamanan negara.
Baca Juga: Tak Disiarkan di SCTV! Berikut Link Live Streaming Sevilla vs Arsenal di Liga Champions 2023-2024
Penggunaan teknologi serta pelibatan elemen sipil baik individu maupun lembaga yang memiliki kompetensi yang relevan dengan tujuan ini menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan.
Demikian antara lain disampaikan Prof R Widya Setiabudi Sumadinata dalam orasi ilmiah penerimaan jabatan Guru Besar bidang Keamanan Global pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran, di Graha Sanusi Hardjadinata, Unpad, Jalan Dipati Ukur, Bandung, Selasa, 24 Oktober 2023.
Orasi ilmiah Prof. Widya Sumadinata berjudul “Perluasan Dimensi Keamanan Global: Keharusan Revisi Strategi Pertahanan Negara.”
Baca Juga: Hasil Manchester United vs FC Copenhagen Akan Tentukan Nasib Setan Merah di Liga Champions 2023-2024
Prof. Widya Sumadinata yang juga merupakan Dekan FISIP Unpad dalam bagian awal orasi ilmiahnya memaparkan perkembangan pemikiran terkait studi keamanan di seluruh dunia.
International security atau keamanan internasional yang mengandaikan bahwa potensi ancaman yang dihadapi setiap negara berasal dari negara lain telah berkembang menjadi global security atau keamanan global.
Perkembangan ini didasarkan pada kenyataan bahwa potensi ancaman tidak hanya berasal dari aktor negara (state-actors), melainkan juga dari aktor non negara (non state-actors).
Baca Juga: Jadwal Siaran Langsung SCTV Liga Champions 2023-2024 Malam ini, Galatasaray vs Bayern Munchen
Dia mencontohkan peristiwa serangan terhadap World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, pada 11 September 2001 silam, misalnya, memperlihatkan betapa kelompok teroris yang merupakan aktor non-negara menjadi ancaman yang nyata juga.
Begitu juga dengan aksi kelompok hacker yang belakangan kerap menjadi tema utama pemberitaan media.
Dengan kata lain, sambung Prof. Widya Sumadinata telah terjadi pergesaran yang sangat signifikan dari pemahaman keamanan tradisional menjadi pemahaman keamanan non-tradisional.
Artikel Terkait
Gantikan Almarhum Prof Dr Harry Azhar, Muhammad Yusuf Dilantik Sebagai Presidium MN KAHMI
PB IDI Sesalkan Pemberhentian Prof Zainal Muttaqin SpBS(K) dari RS Kariadi Semarang
Gelar Pahlawan Nasional untuk Prof Kusumaatmadja Penting di Tengah Kompetisi Dunia
Prof Maria Universitas Airlangga, Eksplorasi Keindahan Kedokteran Tropis: Belajar dari Pengalaman Nyata
Sekretaris IKA FH Unpas Boyke Luthfiana Angkat Bicara Soal Calon Rektor, Nama Prof Dr T Subarsyah Mengemuka