Yang gagal adalah model bisnis yang belum mampu mengubah kepercayaan menjadi keberlanjutan.
Inilah persimpangan media hari ini.
Kita tidak perlu mengurangi idealisme agar bisnis tumbuh. Namun, kita juga tidak bisa terus meneriakkan idealisme sambil membiarkan perusahaan pers perlahan-lahan kehabisan napas.
Sebab pada akhirnya, wartawan tetap harus membawa pulang gaji. Perusahaan tetap harus membayar tagihan. Dan jurnalisme berkualitas tetap membutuhkan biaya.
Masa depan pers karena itu bukan memilih antara idealisme atau bisnis.
Tantangannya jauh lebih besar: bagaimana menjadikan idealisme sebagai fondasi bisnis yang berkelanjutan, tanpa pernah menjual idealismenya. ***