daily-vibes

Di Jantung Biosfer Kalbar, Ketika Habitat Orangutan Beririsan dengan Ekspansi Sawit

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:48 WIB
Di Siburan, Sarawak, Malaysia, tampak satu individu orangutan liar bergelantungan di antara pepohonan di kawasan hutan hujan tropis Malaysia yang masih tersisa. Habitat alami seperti ini menjadi ruang penting bagi kelangsungan hidup. (Pexels/Pat Whelen)

Sementara di Kecamatan Batang Lupar, perubahan lanskap dinilai meningkatkan risiko fragmentasi habitat sehingga kelompok orangutan berpotensi terisolasi dalam kantong-kantong hutan yang semakin kecil.

Ketika Satwa dan Aktivitas Ekonomi Berbagi Ruang

Perubahan tutupan hutan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga memunculkan interaksi yang semakin intens antara manusia dan satwa liar.

Laporan investigasi menyebut bahwa ketika pohon pakan alami berkurang, sebagian orangutan mulai memasuki area perkebunan dan memanfaatkan pucuk kelapa sawit sebagai sumber makanan alternatif.

Baca Juga: Saat Gambut Mengering, Ketahanan Pangan Nasional Diuji dari Kalimantan Barat

Kondisi tersebut berisiko memicu konflik di lapangan.

Dalam sejumlah kasus yang didokumentasikan kelompok lingkungan, orangutan disebut kerap dipersepsikan sebagai gangguan terhadap aktivitas produksi.

Situasi ini berpotensi memunculkan tindakan pengusiran maupun praktik penanganan yang tidak sesuai dengan prinsip perlindungan satwa.

Di sisi lain, masyarakat adat dan warga lokal juga menghadapi tekanan tersendiri.

Rusaknya kawasan penyangga disebut mendorong satwa masuk ke area kebun dan ladang tradisional, yang kemudian memunculkan persoalan sosial baru di tingkat komunitas.

Sejumlah kelompok masyarakat di Batang Lupar pun mendorong penyelesaian tata ruang yang dinilai lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kepastian ruang kelola masyarakat.

Dorongan Kebijakan dan Tata Kelola Lanskap

Organisasi lingkungan mendorong pemerintah pusat maupun daerah memperkuat instrumen perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi.

Beberapa rekomendasi yang diajukan antara lain penerapan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) dalam pengembangan konsesi, pelaksanaan audit Nilai Konservasi Tinggi (NKT/HCV), serta penyediaan koridor satwa yang menjaga konektivitas habitat.

Selain itu, pembangunan Koridor Ekosistem Esensial (KEE) dinilai penting untuk menghubungkan fragmen hutan yang terisolasi dengan kawasan inti konservasi guna menjaga keberlangsungan populasi satwa dalam jangka panjang.

Halaman:

Tags

Terkini

Seabad Maria Manaoag, Bersama Jutaan Umat

Rabu, 22 April 2026 | 22:31 WIB