daily-vibes

Disebut Ceplas-ceplos, Menkeu Purbaya Justru Dianggap Buka Mata Publik soal Pemerintahan

Rabu, 29 Oktober 2025 | 07:05 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan keterangan kepada awak media di Jakarta, 27 Oktober 2025. Gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos menuai pro dan kontra. (Instagram @menkeuri)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Gaya komunikasi Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kembali menuai sorotan publik.

Setelah dinilai terlalu ceplas-ceplos dalam berbagai pernyataan, kini muncul dua pandangan berbeda dari para pengamat.

Baca Juga: Pesan Prabowo di Hari Sumpah Pemuda, Pemuda Harus Berani Bermimpi Besar, Jangan Takut Gagal!

Sebelumnya, analis politik Hasan Nasbi menilai gaya bicara Purbaya yang terbuka justru bisa membuat publik menganggap pemerintah tidak solid dan melemahkan kepercayaan.

Namun, di sisi lain, aktivis dan politikus Syahganda Nainggolan justru menyebut gaya blak-blakan Purbaya perlu diapresiasi.

“Saya pikir rakyat justru harus berterima kasih. Dengan gaya ceplas-ceplos Pak Purbaya, kita jadi tahu kondisi negara yang sesungguhnya,” ujar Syahganda dalam video podcast bersama Bambang Widjojanto, Selasa (28/10/2025).

Menurut Syahganda, sikap jujur dan apa adanya membuat Menkeu Purbaya kini menjadi sosok fenomenal di mata masyarakat.

“Sekarang kan Pak Purbaya fenomenal ya, karena orang percaya dia. ‘Ini nih yang mau ngurus rakyat,’ begitu,” ucap Syahganda.

Baca Juga: MBG Curi Perhatian di PBB Jenewa, Indonesia Tampilkan Model Pembangunan Inklusif yang Dilirik Dunia

Ia juga menyinggung fenomena viral plat mobil RI 19 milik Purbaya yang dianggap publik sebagai simbol pejabat yang dihormati.

“Orang menghormati dia karena ceplas-ceplos, tidak menyimpan rahasia. Kalau orang menyimpan rahasia, pasti punya kepentingan pribadi,” sambungnya.

Bambang Widjojanto, yang menjadi host dalam podcast tersebut, menilai gaya bicara Purbaya seolah mewakili aspirasi masyarakat luas.

Syahganda mencontohkan bagaimana gaya blak-blakan Purbaya berhasil menarik perhatian masyarakat pada isu utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) yang kini tengah menjadi polemik.

“Misal soal Whoosh. Waktu dia bilang, ‘Gue nggak mau nih biayain utangnya Whoosh’, orang langsung bertanya: ada apa? Lalu muncul diskusi publik, ahli kebijakan ikut bicara. Nah, itu bagus,” jelasnya.

Menurut Syahganda, dari gaya bicara tersebut, masyarakat akhirnya mengetahui duduk perkara proyek yang sempat disebut menimbulkan beban utang besar.

Halaman:

Tags

Terkini