Balita 2 Tahun Meninggal Dunia di Pengungsian Gempa NTT, Diduga Terpapar Suhu Dingin

photo author
Patrisia Yosi, Pontianak Globe
- Selasa, 25 Agustus 2026 | 19:05 WIB
Menyoroti viralnya kabar balita berusia 2 tahun yang wafat imbas terpapar kondisi dingin di posko pengungsian gempa NTT.  (Instagram.com/@folkative)
Menyoroti viralnya kabar balita berusia 2 tahun yang wafat imbas terpapar kondisi dingin di posko pengungsian gempa NTT. (Instagram.com/@folkative)

PONTIANAKGLOBE.COM, NUSA TENGGARA TIMUR -- Kabar duka datang dari lokasi pengungsian korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang balita berinisial MC (2), asal Kabupaten Nagekeo, meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis.

MC diketahui menjadi salah satu pengungsi bersama keluarganya setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.

Baca Juga: Br Stephanus Paiman OFM Cap: Jangan Sederhanakan Karhutla dengan Menyalahkan Peladang Tradisional

Kabar meninggalnya MC menjadi perhatian publik, terlebih terdapat informasi bahwa kondisi kesehatan balita tersebut diduga berkaitan dengan paparan suhu dingin selama berada di pengungsian.

“Menurut Kementerian Kesehatan, kematian anak tersebut dikaitkan dengan paparan suhu dingin saat berada di lokasi pengungsian,” tulis akun Instagram @folkative pada Senin (24/8/2026).

Kondisi tersebut turut menyoroti keterbatasan fasilitas yang masih dihadapi warga, khususnya anak-anak dan kelompok rentan yang harus bertahan di lokasi pengungsian pascabencana.

Bertahan di Pengungsian Tepian Bukit Puta

MC diketahui mengungsi bersama keluarganya di sebuah posko yang berada di tepian Bukit Puta setelah gempa melanda pada 15 Agustus 2026.

Selama berada di lokasi pengungsian, kondisi kesehatan MC disebut terus menurun.

Menurut pihak keluarga, balita tersebut sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

Sempat Dirawat karena Demam Tinggi

Seorang relawan sekaligus warga setempat bernama Afik membenarkan kabar meninggalnya MC.

Baca Juga: Karhutla Datang, Jangan Jadikan Peladang Menantang

Menurut Afik, MC merupakan salah satu anak yang bertahan bersama keluarganya di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian.

Ia menyebut persediaan selimut di lokasi pengungsian masih minim sehingga warga harus menghadapi suhu dingin pada malam hari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Patrisia Yosi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Karhutla Datang, Jangan Jadikan Peladang Menantang

Senin, 24 Agustus 2026 | 18:41 WIB

KAMMI Tolak Rencana Aksi AMPB di DPR pada 27 Agustus

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:30 WIB
X