PONTIANAKGLOBE.COM, NUSA TENGGARA TIMUR -- Kabar duka datang dari lokasi pengungsian korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang balita berinisial MC (2), asal Kabupaten Nagekeo, meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis.
MC diketahui menjadi salah satu pengungsi bersama keluarganya setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.
Baca Juga: Br Stephanus Paiman OFM Cap: Jangan Sederhanakan Karhutla dengan Menyalahkan Peladang Tradisional
Kabar meninggalnya MC menjadi perhatian publik, terlebih terdapat informasi bahwa kondisi kesehatan balita tersebut diduga berkaitan dengan paparan suhu dingin selama berada di pengungsian.
“Menurut Kementerian Kesehatan, kematian anak tersebut dikaitkan dengan paparan suhu dingin saat berada di lokasi pengungsian,” tulis akun Instagram @folkative pada Senin (24/8/2026).
Kondisi tersebut turut menyoroti keterbatasan fasilitas yang masih dihadapi warga, khususnya anak-anak dan kelompok rentan yang harus bertahan di lokasi pengungsian pascabencana.
Bertahan di Pengungsian Tepian Bukit Puta
MC diketahui mengungsi bersama keluarganya di sebuah posko yang berada di tepian Bukit Puta setelah gempa melanda pada 15 Agustus 2026.
Selama berada di lokasi pengungsian, kondisi kesehatan MC disebut terus menurun.
Menurut pihak keluarga, balita tersebut sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Sempat Dirawat karena Demam Tinggi
Seorang relawan sekaligus warga setempat bernama Afik membenarkan kabar meninggalnya MC.
Baca Juga: Karhutla Datang, Jangan Jadikan Peladang Menantang
Menurut Afik, MC merupakan salah satu anak yang bertahan bersama keluarganya di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian.
Ia menyebut persediaan selimut di lokasi pengungsian masih minim sehingga warga harus menghadapi suhu dingin pada malam hari.
Artikel Selanjutnya
Siswa SMP di Jambi Meninggal Usai Duel, Polisi Amankan Pelajar 13 Tahun
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Artikel Terkait
Siswa SMP di Jambi Meninggal Usai Duel, Polisi Amankan Pelajar 13 Tahun
Kebakaran Hanguskan 129 Rumah di Kampung Adat Sade Lombok, 320 Warga Terdampak
Karhutla Datang, Jangan Jadikan Peladang Menantang
Br Stephanus Paiman OFM Cap: Jangan Sederhanakan Karhutla dengan Menyalahkan Peladang Tradisional
P2D Kalbar Tolak Rencana Pencabutan Perda Perladangan Berbasis Kearifan Lokal
KPK Bongkar Dugaan Pemerasan Penerimaan Maba Unsoed, Rektor Jadi Tersangka