Baju bekas yang ukurannya terlalu besar atau memiliki noda kecil dijahit ulang, dikombinasikan dengan kain lain, dan diubah menjadi tas, rompi, atau jaket model baru yang unik.
Strategi ini justru menaikkan nilai jual produk berkali-kali lipat tanpa perlu ketergantungan pada bal impor segar.
Jika kamu baru mau terjun ke bisnis ini, hindari langsung berspekulasi membeli bal segel utuh.
Mulailah dengan modal kecil dengan cara mengurasi (hunting) baju-baju pilihan di Jalan Bali atau Ampera pada jam subuh saat toko baru buka bongkaran, lalu jual kembali secara online dengan margin keuntungan tipis terlebih dahulu.
Kreativitas adalah Kunci Selamat
Bisnis thrifting di Pontianak memang tidak semudah lima tahun lalu karena terganjal regulasi.
Namun, selama anak muda Pontianak tetap haus akan penampilan modis dengan harga terjangkau, pasarnya akan selalu ada.
Di tahun ini, pemenangnya bukan lagi siapa yang punya modal paling besar untuk beli bal, melainkan siapa yang paling kreatif mengemas barang bekas menjadi produk fesyen yang punya nilai seni tinggi.
Gimana? Sudah siap berburu barang vintage besok subuh di Jeruju?
Artikel Terkait
Pakaian Bekas Asing Ancam Industri Tekstil Lokal, Sultan: Ujian Nasionalisme Petugas dan Masyarakat
Kemendag Sita 19.391 Bal Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp112 Miliar di Bandung, Ternyata Berasal dari 3 Negara Ini
Operasi Besar Polda Metro Bongkar Pemasok Utama Pakaian Bekas Impor
Pakar Ekonom Soroti Impor Baju Bekas: Persaingan Nggak Fair, Negara Rugi, Industri Kolaps
Sungai Bekas Banjir di Bener Meriah Disulap Jadi Wisata Dadakan
Kreator Muda Katolik Belajar Produksi Konten Digital di Pontianak