bisnis-market

Smart Digital dalam Agribisnis: Strategi Pemasaran Melon

Steve Vantax
Selasa, 26 November 2024 | 20:43 WIB
Budidaya melon yang dikelola Pak Acip, seorang petani transmigran asal Bekasi yang kini menetap di Trans 1 Desa Pangmilang, Singkawang Selatan. Ia menekuni budidaya melon sejak tahun 2015 dengan lahan seluas 1.500 meter persegi, serta menanam 4.000 batang bibit melon menggunakan metode bedengan. (Dokumen Pribadi, 12 November 2024)

⒉           Penetapan Tujuan bisnis yang jelas

                Usaha yang dijalankan pak Acip dan anaknya harus memiliki tujuan bisnis yang jelas dan terukur. Tujuan utama pemasaran melon pak Acip adalah untuk memperluas distribusi produk ke pasar baru, serta meningkatkan kesadaran merek lewat kampanye digital (Utami & Wiyono, 2023).

⒊           Pemahaman tentang digital marketing.

                Pengetahuan yang cukup tentang digital marketing menjadi hal yang penting untuk mengaplikasikannya ke dalam praktek usaha tani. Kemampuan memahami ilmu digital marketing dapat memudahkan pelaku usaha pertanian dalam memanfaatkan platform digital mana yang akan digunakan untuk memasarkan produk pertaniannya.

⒋           Pemanfaatan Media sosial

                Peran media sosial seperti Instagram dan Facebook. juga perlu menjadi perhatian. Foto-foto produk yang menarik serta deskripsi lengkap tentang kualitas dan metode penanaman dapat digunakan untuk menarik pembeli. Pak acip dapat membuat konten yang edukatif sekaligus menarik di media sosial tersebut untuk meningkatkan engagement dengan konsumen (Utami & Wiyono, 2023)

⒌           Penggunaan Platform E-Commerce

                Produk melon dan semangka mereka dipromosikan melalui marketplace seperti whatapps dan Tokopedia. Pemanfaatan platform e-commerce memungkinkan pelaku agribisnis untuk memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan efisiensi proses jual beli secara digital. kebutuhannya sebatas kemampuan petani dalam melihat peluang pasar. tidak semua platform cocok dimanfaatkan dalam pemasaran digital.

Tantangan Digital Marketing

Transformasi digital di sektor agribisnis menghadapi tantangan besar, salah satunya adalah infrastruktur digital yang belum merata, terutama di daerah pedesaan.

Akses internet yang lambat atau bahkan tidak tersedia menjadi kendala utama bagi petani untuk mengadopsi teknologi modern.

Hal ini menyebabkan keterbatasan dalam pemanfaatan aplikasi berbasis digital, seperti platform e-commerce, perangkat IoT, atau sistem manajemen pertanian berbasis cloud.

Tanpa infrastruktur yang memadai, pelaku agribisnis di daerah terpencil sulit bersaing dengan mereka yang sudah lebih dulu menikmati akses teknologi.(Maliha, 2023)

Selain itu, kurangnya literasi digital di kalangan pelaku agribisnis tradisional menjadi tantangan lain yang harus diatasi. (Seminar & Sarwoprasodjo, 2019) Banyak petani dan pengusaha kecil yang belum memahami bagaimana teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi dan keuntungan usaha mereka.

Ketidaktahuan ini sering kali menyebabkan ketakutan terhadap perubahan, sehingga mereka enggan mencoba hal baru. Untuk mengatasi masalah ini, pelatihan dan pendampingan intensif sangat diperlukan, baik dari pemerintah maupun pihak swasta, agar pelaku agribisnis lebih percaya diri dalam memanfaatkan teknologi digital.

Halaman:

Tags

Terkini