Mengulas Kontroversi BLBI BCA, Penjualan Saham, Kerugian Negara, dan Peran Investor Asing

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 20 Agustus 2025 | 07:50 WIB
Gedung perusahaan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).  (Unsplash @HendraJn)
Gedung perusahaan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). (Unsplash @HendraJn)

Namun, pada 2002 mayoritas saham BCA justru dilepas ke investor asing Farallon seharga Rp10 triliun saja.

“Jadi pemerintah sebenarnya menanggung kerugian Rp78 triliun,” tulis Kwik.

Baca Juga: Lupa Bawa Kartu? Begini Cara Tarik Tunai di ATM BCA Tanpa Ribet!

Kwik juga menyinggung kredit macet Grup Salim yang nilainya mencapai Rp52,7 triliun.

Karena saham BCA sudah diambil alih pemerintah, utang tersebut otomatis menjadi tanggungan negara.

Keluarga Salim tidak bisa membayar secara tunai, sehingga digunakan skema Pelunasan Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) melalui Master Settlement and Acquisition Agreement (MSAA).

Dalam skema ini, Grup Salim menyerahkan Rp100 miliar uang tunai dan 108 perusahaan.

Hasilnya, pemerintah hanya menerima Rp20 triliun dari total utang Rp52,8 triliun Grup Salim, atau sekitar 34 persen saja.

Kondisi ini menambah panjang daftar kerugian negara akibat BLBI.

Baca Juga: Panduan Lengkap: Tarik Tunai Saldo GoPay di ATM BCA Tanpa Kartu

Pada 2002, di era Presiden Megawati, pemerintah resmi melepas 51 persen saham BCA ke publik.

Farallon, perusahaan investasi asal Amerika Serikat, memenangkan tender tersebut dengan harga Rp10 triliun.

Lima tahun berselang, tepatnya 2007, Grup Djarum mengambil alih mayoritas saham BCA.

Mereka membeli 92,18 persen kepemilikan Farallon, sehingga BCA beralih ke tangan konglomerasi asal Kudus itu. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X