Grab Ingatkan Efek Domino Jika Mitra Jadi Karyawan, UMKM Paling Terdampak

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Minggu, 15 Juni 2025 | 08:16 WIB
Bos Grab buka suara terkait wacana menjadikan driver mitra sebagai karyawan. (Facebook @KomunitasDriverGrabKudus)
Bos Grab buka suara terkait wacana menjadikan driver mitra sebagai karyawan. (Facebook @KomunitasDriverGrabKudus)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Grab Indonesia buka suara terkait wacana perubahan status mitra pengemudi ojek daring menjadi karyawan tetap.

Country Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menyatakan kekhawatirannya bahwa kebijakan tersebut justru bisa merugikan mitra dan memicu dampak berantai terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Baca Juga: Hadiah Mewah Jam Tangan Rolex untuk Timnas Disorot, Menpora Ungkap Aksi Serupa Prabowo di Olimpiade saat Masih Menpan

Dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Jumat, 13 Juni 2025, Neneng menegaskan bahwa perusahaan tidak memiliki kapasitas untuk mengangkat seluruh mitra menjadi karyawan karena konsekuensi beban biaya tambahan, seperti gaji bulanan, cuti, jaminan pensiun, hingga perlindungan sosial.

“Kalau di Indonesia hanya 17 persen yang bisa diserap, yang lain mau ke mana? Bagaimana mereka mendapatkan income?” kata Neneng, dikutip Sabtu, 14 Juni 2025.

Ia mencontohkan kebijakan Riders’ Law di Spanyol pada 2021 yang mewajibkan pengemudi daring menjadi pegawai tetap.

Baca Juga: Diperiksa Kejagung, Konsultan Eks Stafsus Nadiem Diduga Terlibat Tim Review Chromebook

Hasilnya, hanya sekitar 17 persen mitra yang diangkat sebagai karyawan, sementara sisanya kehilangan penghasilan.

Neneng juga menyoroti bahwa sistem kemitraan saat ini memberi fleksibilitas bagi mitra dalam menentukan jam kerja dan penghasilan.

Sebaliknya, status karyawan berarti harus tunduk pada sistem kerja yang lebih terstruktur dan terbatas.

“Begitu dia di-PHK, panik cari kerja. Kecuali memang banyak sekali lapangan pekerjaan tersedia,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan potensi dampak pada UMKM.

Baca Juga: Israel Serang Iran, China dan Pakistan Murka, Kecam Keras dan Klaim Pelanggaran

Dengan menyusutnya jumlah mitra pengemudi, layanan pengantaran makanan dan barang bisa terganggu, memukul pelaku usaha kecil yang bergantung pada platform digital.

“Sebanyak 90 persen merchant GrabFood adalah UMKM. Kalau jumlah mitra menyusut, ini bisa menggerus arus ekonomi UMKM yang mayoritas mengandalkan pesanan online,” jelas Neneng. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X