Namun anak tetaplah anak. Deni ingin juga menunjukkan cintanya kepada sang emak. Ketika mendapatkan uang saku saat di Roma, sebagian uang sakunya disisihkan dan dikirimkan ke emaknya di Indonesia. Dan, alhamdulilah… uang itu tidak dilemparkan lagi oleh emaknya seperti dulu kala. Hidup adalah anugerah….
MENANGIS
Ibu Iyot menangis ketika Deni Iskandar menyelesaikan S1 dari UIN Syarif Hidayatullah Fakultas Ushuluddin, Jurusan Studi Agama-Agama bulan Juli 2019.
“Emak nungguin saya ujian skripsi meski tidak tahu apa itu. Tetapi kehadiran emak itulah yang memberi kemantapan dan kekuatan kepada saya yang sangat luar biasa. Emak juga menangis ketika saya diwisuda pada Agustus 2019. Emak bukan orang berpendidikan tetapi emak tahu anaknya sudah selesai sekolah,“ kisah Deni Iskandar yang nama panggilannya Bung Goler.
Sebenarnya UIN Syarif Hidayatullah bukanlah perguruan tinggi satu-satunya yang dimasuki. Sebelum ke UIN, Deni Iskandar sempat kuliah di Universitas Az-Zahra, Jatinegara, Jakarta Timur. Ketika menginjak semester dua, Deni meninggalkan kampus Az-Zahra, Jatinegera karena di jurusannya yakni Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Agama, mahasiswanya hanya 3 (tiga) orang. Akhirnya ia harus menyebrang ke UIN.
Ternyata, di UIN Deni banyak bertemu dengan rekan-rekannya yang dulu pernah mondok bersama semasa di madrasah Aliyah.
Deni Iskandar adalah salah satu murid dari Abuya KH Ahmad Muhtadi bin Dimyathi al-Bantani, ulama terkenal di Provinsi Banten.
Anak kedua dari Ibu Iyot ini memang unik dalam pendidikannya. Ketika ibunya berjualan kopi di Tanah Abang, Jakarta, ia dititipkan kepada kakak perempuan emaknya.
Hanya si bungsu yang dibawa oleh ibunya ke Jakarta. Ia lulusan SMP di Babakan Lor, Cikedal, Pandeglang. Ketika lulus SMP, ia ingin melanjutkan ke STM supaya bisa segera bekerja.
Kalau lulus, keinginannya agar bisa meringankan beban emaknya. Namun keinginan itu tidak tersampaikan.
Ia disekolahkan di Madrasah Aliyah, harus mondok. Ia tidak suka. Berulangkali ia meninggalkan pesantren karena tidak betah dan selalu teringat beban emaknya.
Meski berulangkali kabur, berulangkali pula, dia dikirim pulang ke pesantren. Sang emak hanya yakin dengan belajar agama, anak laki-lakinya akan menjadi orang yang berguna.
Namun apa daya, pada kelas tiga, Deni melarikan diri dan akhirnya memilih menjadi kernet truk yang disopiri saudaranya – truk ekspedisi di Cikarang, Jabar. Anak kedua ini hanya mempunyai cita-cita jadi sopir bis, dan tidak mau bersekolah.
Mengalami shock therapy karena uang hasil jerih payahnya ditolak dan dibuang oleh sang emak, ia sadar harus menyelesaikan SMAnya. Ia ingin memenuhi harapan ibunya. Deni akhirnya menempuh ujian persamaan (Paket C) lulus dari PKBMN 21 di yang berlokasi di Karet Tengsin, Jakarta.
Artikel Terkait
Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia Serahkan Hadiah Khusus kepada Paus Fransiskus di Vatikan
Vatikan Dukung Paguyuban Wartawan Katolik Republik Indonesia Kampanye Perdamaian
Dubes Vatikan Msgr Piero Pioppo: Bangsa Indonesia Dianugerahi Tiga Kekayaan
Kardinal Miguel Angel Ayuso dari Vatikan Gandrung Konsep Islam Wasatiyyah, DR HC dari UIN Sunan Kalijaga
Paus Fransiskus Telah Sehat dan Kembali ke Vatikan Setelah 3 hari Dirawat di Rumah Sakit Gemelli Roma
Walk for Peace: 127 Bhikku dan Umat awam Buddha Theravada Thailand Kunjungi Vatikan Majukan Perdamaian Global