Tantangan Perkawinan di Zaman Postmodern, Ini Tips Pastor Pio OFMCap

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Rabu, 9 Oktober 2024 | 14:59 WIB
Pastor Pionius Hendi OFMCap - Ketua JIPC Kalimantan Barat (Samuel)
Pastor Pionius Hendi OFMCap - Ketua JIPC Kalimantan Barat (Samuel)

Pastor Pionius tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa kehidupan perkawinan saat ini penuh dengan tantangan. Dunia postmodern menghadirkan banyak godaan, baik dari dalam maupun dari luar, yang sering kali mengguncang stabilitas rumah tangga.

Ia menyebutkan bahwa tantangan-tantangan ini dapat datang dalam berbagai bentuk: masalah ekonomi, ketidakcocokan karakter, hingga pengaruh media sosial yang kadang-kadang memicu perselingkuhan dan masalah kepercayaan.

Namun, dalam menghadapi semua itu, Pastor Pionius mengingatkan bahwa komitmen adalah kunci utama.

"Rambut kita bisa memutih, wajah kita bisa keriput, tubuh kita bisa melemah karena penyakit, tetapi satu yang tetap tinggal, yakni komitmen," ujarnya.

Komitmen berarti kesetiaan yang melampaui apa yang dapat kita lihat dan rasakan, karena didasarkan pada janji yang diucapkan di hadapan Allah dan sesama.

Tips Menghindari Perceraian

Dalam homilinya, Pastor Pionius memberikan beberapa tips praktis yang dapat membantu pasangan suami istri mempertahankan kehidupan rumah tangga mereka dan menghindari perceraian, terutama di tengah-tengah zaman yang penuh godaan ini:

Komunikasi yang Jujur dan Terbuka – Pastor Pionius menekankan pentingnya komunikasi yang baik dalam setiap hubungan.

Komunikasi yang jujur dan terbuka antara pasangan akan memberikan kelegaan dan membantu menyelesaikan masalah sebelum menjadi lebih besar.

"Komunikasi bukan hanya tentang bagaimana kita mengatakan sesuatu, tetapi juga bagaimana kita membuktikan apa yang kita katakan," jelasnya.

Saling Mendengarkan dengan Empati – Mendengarkan dengan baik berarti memberikan ruang bagi pasangan untuk mengekspresikan perasaan dan pendapatnya.

Pastor Pionius mengingatkan bahwa menjadi pendengar yang baik adalah salah satu cara untuk menunjukkan empati dan penghargaan terhadap pasangan. Ketika kita mendengarkan, kita bisa belajar dari apa yang disampaikan oleh pasangan dan merespons dengan cara yang tepat.

Mengendalikan Emosi – Saat kita merasa benar, kadang-kadang keinginan untuk mendominasi percakapan muncul. Namun, Pastor Pionius mengingatkan pentingnya mengendalikan emosi dan memberikan kesempatan kepada pasangan untuk berbicara. Ketika salah, segera meminta maaf juga menjadi langkah penting dalam menjaga keharmonisan.

Membuat Kompromi dan Saling Menghargai – Perkawinan adalah tentang kompromi. Kedua pihak harus belajar untuk saling menghargai dan menempatkan kepentingan pasangan di atas diri sendiri. Dengan kerendahan hati, kita membuka diri untuk menerima kemungkinan yang ada, baik yang positif maupun yang negatif.

Memberikan Quality Time – Terakhir, Pastor Pionius menekankan pentingnya memberikan quality time baik untuk berdoa bersama maupun untuk menghabiskan waktu bersama pasangan. Quality time ini adalah momen berharga yang dapat memperkuat ikatan emosional dan spiritual di antara pasangan suami istri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Sumber: Majalah DUTA

Tags

Rekomendasi

Terkini

X