Dalam Homilinya, Uskup Agustinus mengatakan bahwa dalam dunia banyak orang mudah menjadi angkuh dan sombong. Menurutnya itulah kenyataan yang tidak bisa dihindari.
“Hidup di dunia ini, orang mudah menjadi angkuh dan mudah menjadi sombong. Kecantikan juga bisa membuat orang angkuh, sebaliknya,” kata Uskup Agustinus (15/08).
Uskup Agustinus juga menerangkan situasi “fakta pengalaman” Bunda Maria sebenarnya untuk menunjukkan kepada manusia bahwa siapapun adalah manusia yang sangat berharga di hadapan Tuhan.
“Pada diri kita yang saat ini, ada kecenderungan ingin dihargai, ingin juga dihormati bahkan dengan cara yang tidak benar. Orang yang ingin dihargai-kan, dia pikir dengan kekayaan dia bisa dihargai orang? Itulah Dunia,” ujarnya, (15/08).
Uskup Agustinus juga menggarisbawahi bahwa dengan cara itulah, orang kecil tidak pernah diberikan kesempatan dan tidak pernah juga diberikan hak yang sama dengan yang lain. Baginya itulah tantangan.
Bahwa godaan-godaan seperti itu ada dalam diri kita, lanjut Uskup Agustinus: “Tapi ingatlah bahwa Bunda Maria mengalami hal yang istimewa, orang kecil namun sikap seperti Bunda Maria bisa kita lakukan.”
“Mulai dari hal yang kecil, yakin dan jika kita lihat bahwa orang yang sederhana-pun dipakai oleh Tuhan,” tambah Uskup Agustinus, (15/08).
Anugerah Tuhan
“Kami disini, merupakan anugerah Tuhan yang diberikan Tuhan kepada kami,” kata Bruder Alfonsus MTB saat menyampaikan sambutan hari itu, (15/08).
Dia mengungkapkan bahwa, mereka menyadari betul selesai kaul kekal bukan berarti selesai semuanya. Tetapi tetap harus berjuang untuk setia dan bertekun dalam menjalani panggilan.
“Seperti yang telah ditunjukkan dari saudara kami, Bruder Videlis MTB yang merayakan hidup membiara 25 tahun dan Bruder Petrus MTB yang merayakan hidup membiara 50 tahun dan dengan teladan mereka kami mencoba untuk belajar dari kesetiaan seumur hidup kami,” kata Bruder Alfonsus MTB, (15/08).
Sejalan dengan itu, Bruder Anselmus MTB juga menyampaikan tentang sebuah syair yang dia tuliskan. Dalam kesempatan itu dia mengatakan bahwa, perjalanan bukan hanya sekedar melangkah tetapi lebih dari itu ada suka dan duka, ada canda tawa serta perjuangan untuk sesuatu yang dituju.
“Dalam doa dan refleksi, memampukan kami melangkah dengan pasti walaupun dalam perjalanan jatuh dan bangun tetapi tetap bangkit untuk mencapai pada tujuan mulia setia bersama Yesus,” kata Bruder Anselmus MTB, (15/08).
Bruder Anselmus MTB menggarisbawahi bahwa dalam kerapuhan, kelemahan bahkan kehampaan, membuat jalan mereka tak berdaya dan terombang-ambing dalam kehidupan.
“Itu semua tak membuat kami goyah dan menyerah, namun kami semakin dikuatkan dengan pengalaman itu dan semakin didewasakan dalam melangkah dengan pasti,” tuturnya, (15/08).