“Mereka adalah hidup dalam pertapaan,”katanya.
Santo Dominikus melihat hidup itu tidak hanya pertapaan tetapi harus disatukan antara elemen doa dan karya, yang disebut dengan kontemplasi dan aksi.
Dia menekankan bahwa sebenarnya Dominikan adalah berkontemplasi, kemudian men-sharing-kan hasil kontemplasi kepada orang.
“Maka dalam tradisi Dominikan ada element ‘Kerahiban’ dan ada element aktif,” tambahnya.
Yang ditekankan dalam Dominikan bahwa hidup itu bukan hanya hidup untuk berkarya dan bekerja tetapi sebenarnya adalah doa, yang dimana doa itu yang menjadi inspirasi kerja dan karya itu sendiri.
“Nilai itulah yang mesti kita wartakan di zaman ini,” kata Pastor Robini OP (08/08).
Tahun 2006 Dominikan datang kembali ke Indonesia
Mengapa Dominikan memulai karya di Kalimantan Barat? “ Tahun 2006 kita tiba di Kalimantan Barat atas undangan Emeritus Mgr. Hieronyimus Herkulanus Bumbun OFMCap dan juga didukung oleh Mgr Agustinus Agus yang waktu itu sekretaris badan kerjasama seminari.
Beliau mengundang Dominikan mulai berkarya di Pontianak dengan memulai pendidikan dan pengajar termasuk pembinaan calon imam.
Itu kalimat Pastor Robini OP yang memanggil kembali memori 18 tahun lalu mulainya kembali Dominikan ke Indonesia.
Tetapi sebenarnya, Dominikan adalah ordo yang pertama membabtis orang Indonesia. Penginjilan pertama dilakukan oleh Dominikan di tahun 1555.
Misi Dominikan yang dibawa dengan Portugis dimulai tahun 1418 dalam memulai kegiatan misi mereka, kemudian diperluas ke Asia meliputi India, Indocina, China, Malacca (Uskup Pertama di Malacca adalah Seorang Dominikan), dan pulau-pulau di Samudera Hindia.
Singkat cerita, Ketika St. Dominikus mendirikan Ordo Dominikan pada Tahun 22 Desember 1216, kurang lebih 300 tahun kemudian, baru Indonesia merasakan kehadiran Tuhan Yesus Kristus.
Yang pertama itu di Nusa Tenggara Timur (NTT) Larantuka pada Tahun 1556 Fr. Antonio da Crus built a seminary in Larantuka.