Warna jingga juga kesenanganku. Warna ini melambangkan suasana kebahagiaan, karena, di depan sana ada pengharapan.
Sebelum meninggalkan rumah orang tua, aku singgah di lokasi ari-ariku ditanam.
Ku sapa saudaraku ini.
Ia kuajak melanjutkan perjalanan panjang yang tanpa batas.
Juga saudara yang lain, air kawah, darah, dan tali pusar, kuajak serta,
Di emper depan, tiba-tiba terputar kembali ‘wejangan’ ibu enam tahun yang lalu ketika aku pamit untuk mengikuti PTT di kepulauan terluar dan terpencil.
Ia menasehatiku agar jangan takut, sebab ke-empat saudaraku menyertai perjalanan itu.
Wejangan itu, kurang lebih mirip dengan wejangan Dewi Anjani kepada anaknya si kera putih, Anoman, yang ada dalam buku kesayangan ibu, Anak Bajang Menggiring Angin.
Sambil memelukku, dengan raut muka ‘sumringah’ ibu berkata “Jangan khawatir Wie, anakku, Pergilah kemana hatimu suka.
Karena, kau akan selalu bertemu dengan salah satu dari keluarga keempat saudaramu, kakang kawah (air ketuban), adik ari-ari, darah, atau tali pusar.
Mereka akan selalu menyambutmu dalam suka dan duka.
Tentu, atas izin-Nya” Ibu menarik napas panjang.
“Mereka tersebar di empat penjuru angin” Sambungnya.
“Jika pergi ke timur, kau akan berjumpa dengan keluarga yang melahirkan kawahmu.
Jika ke selatan kau akan bertemu dengan keluarga yang melahirkan darahmu.
Artikel Terkait
Sang Dokter (1): Terminal Terakhir