Karena kursi hanya empat, ayah duduk sendirian di ‘singga sana’-nya yang khas, sebuah kursi kayu panjang berkaki rendah.
Ayah juga sering tidur semalaman di kursi itu.
Tentu tanpa alas kasur. Kami hanya punya tikar.
Tampaknya, kedua adikku sedang membuka-buka jejaring medsos.
Aku mendengar mereka bergantian membacakan kiriman dari kontak masing-masing.
Pada umumnya, berisi ucapan suka cita disertai doa-doa untukku dan untuk seluruh keluarga.
Sebagian juga berisi kata-kata penghiburan, ungkapan kagum, serta bangga,
Banyak juga yang mengirimkan gambar karangan bunga atau sticker yang indah.
Aku tidak tahu apakah kebetulan atau ada yang ‘campur tangan’. Sebagian besar berupa bunga mawar merah jambu. Itu bunga dan warna favoritku.
Aku suka bunga mawar karena batangnya walau lentur tetapi penuh duri yang kokoh.
Sebuah isyarat dapat melindungi diri sendiri.
Karena itu, tidak jarang bunga ini dijadikan sebagai tanaman pagar.
Jika sudah lebat, susah orang menembusnya.
Aku pun demikian, berusaha melindungi diri sendiri.
Aku merupakan salah seorang dari sedikit perempuan penyandang sabuk hitam dari dari suatu organisasi bela diri.
Artikel Terkait
Sang Dokter (1): Terminal Terakhir