Pohon-pohon di sekitar ditebang untuk dijadikan tiang bangunan, sementara dinding dibuat dari anyaman bambu dan atap menggunakan daun sagu.
Dari masa-masa awal inilah lahir sebuah kisah yang terus dikenang hingga sekarang.
Baca Juga: Kebisingan Digital, Uskup Didik Ingatkan Komsos Tak Sekadar Pengguna Teknologi
Kayu-kayu yang digunakan sebagai tiang bangunan ternyata masih hidup.
Beberapa waktu kemudian, batang-batang yang telah ditancapkan ke tanah itu mengeluarkan tunas dan daun-daun hijau.
Bahkan, beberapa kaki bangku sederhana yang dibuat dari kayu segar mengalami hal serupa.
Fenomena itu menjadi cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi di Nyarumkop—seolah alam ikut bertumbuh bersama cita-cita pendidikan yang sedang dirintis.
Mengangkut Rumah dengan Kereta Sapi
Keterbatasan bahan bangunan tidak menyurutkan semangat para misionaris.
Pada 1917, Pater Marcellus membeli sebuah rumah kayu bekas di daerah Patengahan.
Rumah itu dibongkar, kemudian balok-balok kayunya diangkut menuju Nyarumkop menggunakan kereta yang ditarik sapi.
Perjalanan tersebut bukan perkara mudah.
Jalan yang belum terbentuk, medan berlumpur, serta jarak yang cukup jauh menjadi tantangan tersendiri.
Namun berkat ketekunan itu, berdirilah kapel dan pastoran yang menjadi pusat pelayanan sekaligus pengembangan pendidikan.
Meyakinkan Masyarakat