PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Di balik rindangnya pepohonan dan bangunan-bangunan pendidikan yang berdiri kokoh di Kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN), tersimpan sebuah kisah yang nyaris seabad terlupakan.
Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini menjadi salah satu pusat pendidikan Katolik terbesar di Kalimantan Barat itu dahulu hanyalah hutan belantara yang lebat.
Baca Juga: Hadirkan Uskup dan Filsuf Nasional, Unika San Agustin Gelar Workshop Humaniora
Perjalanan menuju Nyarumkop bukan sekadar kisah pembangunan sekolah.
Ia adalah cerita tentang keberanian membuka rimba, ketekunan para misionaris, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan masyarakat di Pulau Borneo.
Sejarah PKN berawal dari sebuah musibah.
Pada awal abad ke-20, pusat pendidikan berasrama bagi anak-anak Dayak berada di Pelanjau.
Namun pada 1911, bangunan sekolah dan asrama di kawasan itu roboh sehingga kegiatan pendidikan tidak lagi memungkinkan untuk dilanjutkan.
Peristiwa tersebut mendorong Prefek Apostolik Borneo Belanda saat itu, Mgr Jan Pacificus Bos OFM Cap, mencari lokasi baru yang lebih aman, memiliki sumber air yang memadai, dan lebih strategis untuk pengembangan karya pendidikan.
Pilihan akhirnya jatuh pada sebuah kawasan berhutan di kaki perbukitan, sekitar beberapa kilometer dari pusat Singkawang. Tempat itulah yang kemudian dikenal sebagai Nyarumkop.
Tugas berat membuka kawasan baru itu dipercayakan kepada Pater Marcellus OFM Cap, yang bersama rekan-rekannya memulai babak baru sejarah pendidikan Katolik di Kalimantan.
Membuka Hutan dengan Tangan Sendiri
Pada 3 September 1916, Pater Marcellus bersama Bruder Timoteus tiba di Nyarumkop.
Mereka tidak menemukan bangunan, jalan, ataupun fasilitas pendukung. Yang terbentang hanyalah hutan lebat.
Dengan segala keterbatasan, keduanya membangun pondok sederhana sebagai tempat berteduh.