Oleh: Gusti Hardiansyah
PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Langit masih menyisakan warna kebiruan ketika perahu panjang bermesin 200 PK meninggalkan Dermaga Sei Kelabau.
Riak air pecah perlahan di buritan, sementara angin pagi membawa aroma payau khas pesisir.
Baca Juga: Kopi Liberika, Khas Kalimantan Barat Yang Tumbuh Subur di Lahan Gambut
Perjalanan menuju Batu Ampar pagi itu bukan sekadar kunjungan lapangan.
Ia terasa seperti perjalanan menelusuri sebuah gagasan: bagaimana sebuah desa dapat tumbuh tanpa kehilangan alam yang menjadi penyangganya.
Di tangan para peserta perjalanan, tumbler berisi kopi liberika menjadi teman setia.
Harumnya menyatu dengan udara sungai yang lembap.
Di Kalimantan Barat, kopi liberika bukan hanya soal rasa.
Ia menyimpan cerita tentang tanah, petani, dan harapan akan sumber ekonomi baru yang lahir dari desa.
Sesampainya di Dermaga Batu Ampar, aktivitas pagi mulai terlihat.
Perahu-perahu warga bersandar, beberapa pedagang membuka dagangan, sementara percakapan ringan mengalir di warung kopi tepi dermaga.
Tempat sederhana itu mungkin belum masuk daftar destinasi wisata, tetapi justru di situlah denyut kehidupan desa terasa paling nyata.
Tak lama kemudian, Bupati Kubu Raya Sujiwo bergabung bersama rombongan.