Harapan itulah yang tampaknya ingin diwujudkan berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan Batu Ampar.
Pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, dan masyarakat setempat mencoba berjalan di jalur yang sama: membangun ekonomi tanpa merusak fondasi ekologis yang menopangnya.
Pada akhirnya, kekuatan terbesar Batu Ampar bukan hanya terletak pada mangrove, bukit ilalang, atau kopi liberikanya.
Kekuatan terbesar itu berada pada masyarakatnya sendiri.
Sebab sebuah desa akan benar-benar maju ketika warganya menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penonton.
Dan pagi itu, secangkir kopi liberika seolah mengingatkan bahwa perubahan besar sering lahir dari hal-hal yang tampak sederhana: pohon yang ditanam, lingkungan yang dibersihkan, usaha kecil yang didampingi, dan keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun dari kampung sendiri. ***
* Gusti Hardiansyah, penulis adalah Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura
Artikel Terkait
Pasrah, Warga Rela Kebun Kopi 30 Tahun Tergerus Akibat Lubang Raksasa Kian Membesar
Kopi Kojal binaan BI Kalbar, Tembus Pasar Global pada Perhelatan World of Coffee Bangkok 2026
Bisnis Kopi Susu Kekinian, Apakah Pasarnya di Pontianak Sudah Jenuh atau Masih Bisa Cuan?
Daripada Habis Buat Es Kopi Susu, Begini Cara Mulai Investasi Reksa Dana dan Saham Modal Rp10 Ribu Sambil Nongkrong di Pontianak
Gak Melulu Bisnis Kopi, 4 Lini Usaha Kreatif di Pontianak yang Lagi Ramai ‘Dikuliti# Anak Muda
Prof Gusti Hardiansyah Minta Audit Tata Niaga Sawit, Soroti Peran Loading Ramp dan Pengumpul