pontianak-insights

Eks Jurnalis INews Beberkan Dugaan Kekerasan Militer Israel

Minggu, 24 Mei 2026 | 19:29 WIB
Menyoroti pengakuan para WNI yang menjadi relawan GSF saat insiden penangkapan oleh pasukan militer Israel di perairan internasional. (Dok. Instagram.com/@chikifawzi)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Publik di media sosial tengah ramai menyoroti kesaksian para warga negara Indonesia (WNI) relawan Global Sumud Flotilla (GSF) usai diduga mengalami kekerasan fisik saat ditangkap pasukan Israel di perairan internasional dalam misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.

Cerita para relawan tersebut diungkap dalam unggahan Instagram aktivis kemanusiaan Chiki Fawzi melalui akun pada Jumat (22/5/2026). 

Baca Juga: Jogja Financial Festival 2026 Jadi Ajang Penguatan Inklusi Keuangan

Salah satu relawan, Rahendro Herubowo atau Heru, mengaku mengalami penyiksaan saat proses penangkapan hingga dibawa ke Pelabuhan Ashdod.

“Saya mengalami beberapa kekerasan. Ditendang, mungkin 3-4 kali di bagian depan,” ujar Heru.

“(Bagian) belakang juga saya diinjak. Dan terakhir disetrum,” lanjutnya.

Heru mengungkapkan dampak kekerasan tersebut masih dirasakannya hingga kini, terutama pada bagian dada yang terasa nyeri saat batuk.

“Jadi saya kalau batuk, sakit ketarik di sini (bagian dada). Mudah-mudahan sih enggak kenapa-kenapa,” katanya.

Ia mengatakan dirinya bersama relawan lain langsung menjalani pemeriksaan kesehatan setibanya di Istanbul, Turki, untuk memastikan kondisi fisik pasca-penahanan.

Kesaksian serupa juga disampaikan Andre Prasetyo Nugroho. Ia mengaku diperlakukan kasar oleh tentara Israel setelah dipindahkan ke kapal besar militer.

“Everything is okay, it's fine, it's fine. Begitu masuk ke kapal gedenya, Bak, Buk! dianggap teroris!” ujar Andre menirukan situasi saat itu.

Baca Juga: Dugaan Kebocoran Data BCA Viral, Ini Respons Resmi Manajemen

Andre mengaku dipaksa menunduk dengan tangan diikat ke belakang secara sangat kencang hingga aliran darah terganggu. Ia bahkan menyebut perlakuan di Pelabuhan Ashdod jauh lebih brutal.

“Saat sudah sampai Ashdod, di tanah, wah itu paling keji. Enggak bisa saya maafin,” ungkapnya.

“Kepala saya mungkin ini cekung. Saya tahan pakai kepala, pakai jidat. Tangan saya diikat ke belakang terlalu kencang, akhirnya peredaran darah enggak jalan dan itu bikin saya mau pingsan,” lanjut Andre.

Halaman:

Tags

Terkini