pontianak-insights

Romo Andrei OP Menegaskan Bahwa Tuhan Tidak Pernah Berhenti Mengasihi Mereka yang Pernah Jatuh

Kamis, 21 Mei 2026 | 00:52 WIB
Minggu pagi, 17 Mei 2026 - Dominikan Awam Gelar Profes Pertama di Rutan Pontianak (Sumber: akurop)

 

PONTIANAKGLOB E.COM | Suasana penuh haru menyelimuti Kapel Rutan Klas IIA Pontianak saat berlangsungnya penerimaan anggota baru dan Profes Pertama Dominikan Awam komunitas St. Margaret Castello, Minggu, 17 Mei 2026.

Di tengah keterbatasan ruang dan kehidupan para penghuni rutan, Perayaan Ekaristi itu menghadirkan pesan kuat tentang harapan, pertobatan, dan kasih Tuhan yang tidak pernah meninggalkan manusia.

Perayaan dipimpin oleh Romo Andrei OP yang dalam homilinya mengangkat tema “Tetap Milik Tuhan” berdasarkan Injil Yohanes 17:1–11a.

Dia menegaskan bahwa Tuhan tetap memandang manusia sebagai milik-Nya, bahkan ketika seseorang pernah jatuh dalam dosa dan kegagalan hidup.

“Mereka adalah milik-Mu. Yesus mengatakan itu bukan kepada orang-orang sempurna, tetapi kepada para murid yang masih memiliki kelemahan, ketakutan, bahkan nantinya meninggalkan-Nya,” kata Rm. Andrei dalam homilinya.

Menurutnya, pesan Injil tersebut menjadi sangat dekat dengan kehidupan para penghuni rutan yang sering kali harus menghadapi stigma sosial dan penilaian negatif dari masyarakat.

“Mungkin dunia memberi label, orang gagal, mantan narapidana, atau orang berdosa. Tetapi bagi Tuhan, kalian tetap berharga dan tetap milik-Nya,” ujarnya.

Dalam perayaan tersebut, sebanyak empat orang diterima sebagai anggota baru Dominikan Awam, sementara sebelas orang lainnya mengucapkan Profes Pertama sebagai bentuk komitmen untuk hidup semakin dekat dengan Tuhan dalam semangat Santo Dominikus.

Bagi Romo Andrei, profes bukanlah tanda kesempurnaan hidup, melainkan keberanian seseorang untuk bangkit dan memulai perjalanan baru bersama Tuhan.

“Profes bukan berarti kita sudah sempurna. Profes adalah keberanian untuk berubah, keberanian untuk bangkit, dan terus berjalan bersama Tuhan meskipun pernah jatuh,” katanya.

Dia juga menegaskan bahwa Tuhan dimuliakan ketika manusia memilih bertobat dan kembali berharap di tengah keterpurukan hidup.

“Tuhan dimuliakan ketika seseorang yang pernah jatuh memilih berubah. Ketika hati yang putus asa mulai belajar berharap kembali. Di situlah rahmat Tuhan bekerja,” lanjutnya.

Perayaan itu berlangsung sederhana namun penuh makna. Wajah-wajah haru tampak dari para anggota komunitas yang mengikrarkan janji mereka di hadapan Tuhan.

Di balik jeruji besi yang selama ini identik dengan hukuman dan masa lalu yang kelam, tumbuh sebuah harapan baru untuk hidup lebih baik.

Halaman:

Tags

Terkini