Bukan air.
Melainkan sesuatu yang hidup.
Perlahan, ia membuka kedua matanya.
Angin berhembus, menggoyangkan dedaunan yang tersisa. Seperti seseorang yang mencoba mengingat nama yang nyaris terlupakan.
Di pulau itu, tidak semua yang hilang benar-benar pergi. Sebagian hanya bersembunyi. Menanti. Sampai suatu hari, ketika yang tersisa bukan lagi hutan. Melainkan manusia, yang lupa bahwa mereka pernah mendengar betapa mesra alam memanjakan mereka. Alam, jelmaan Ulau Manua. &
* Lengkong Bindu, 22 Mei 2024
Glosarium:
- Sikerei: dukun/penyembuh tradisional masyarakat Mentawai. Berperan sebagai perantara manusia, alam, dan roh. Sikerei juga memimpin ritual, penyembuhan, serta menjaga keseimbangan kosmos menurut keyakinan lokal (Arat Sabulungan)
- Uma: rumah adat komunal masyarakat Mentawai. Berfungsi sebagai pusat kehidupan sosial, spiritual, dan ritual. Biasanya dihuni beberapa keluarga dalam satu kelompok kekerabatan.
- Simagre/kina: dalam kepercayaan Mentawai, setiap unsur memiliki roh atau jiwa – baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun benda. Ketidakseimbangan relasi dengan roh dapat menyebabkan sakit atau malapetaka.
- Punen: ritual sabulungan untuk berbagai keperluan, seperti pembangunan uma, pengobatan, dan upacara adat lainnya agar terhindar dari kesialan atau penyakit.
- Tai Ka-leleu: roh hutan atau gunung
- Ulau Manua: Sang Pencipta
Tentang Penulis:
Willy Wedhanta (Willibrordus W.,SS) tinggal di Lengkong Bindu-Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Gemar menulis cerpen dan sajak, sejak di bangku SMA. Ketika kuliah di STFT Widya Sasana Malang, karyanya dimuat berbagai media lokal dan nasional. Bergiat di komunitas Literasi Dayak. Antologi bersama terbarunya, Beribu Kisah dalam Tulisan (Adikara, 2026). ***