Seperti mencari pintu yang terlihat dalam mimpinya.
Ketika lubang itu akhirnya tercipta, cukup untuk ukuran tubuhnya, ia turun. Ia pun duduk di sana. Lalu membaringkan tubuhnya. Ia menempelkan telinganya ke permukaan tanah. Lama. Sangat lama. Hingga napasnya melambat, seperti mengikuti ritme yang bukan miliknya.
“Kalau tanah tak lagi punya jalan pulang,” bisiknya, hampir tanpa suara, “biarlah tubuhku yang menjadi jalannya.”
Dalam kegelapan itu, ia akhirnya mendengar sesuatu. Bukan suara, melainkan denyar. Pelan. Jauh. Namun nyata. Seperti jantung yang berdenyut lemah. Tapi belum sepenuhnya menyerah.
La’aro tersenyum. Senyum yang tak pernah dilihat orang-orang yang tinggal dalam uma yang sama selama ini.
***
Keesokan harinya, warga uma cemas mengetahui ia menghilang. Mereka mencari ke sana sini. Hingga menemukan lubang di tengah ladang baru itu. La’aro tidak ada di sana. Hanya tanah yang terasa masih hangat. Juga jejak tubuh yang perlahan lenyap tak berbekas.
Anak yang terbaring lemah itu akhirnya sembuh beberapa hari kemudian. Ia bangun seperti seseorang yang baru pulang dari sebuah perjalanan jauh, membawa sesuatu yang tak sanggup ia ceritakan.
Beberapa orang mulai bermimpi.
Tentang seorang lelaki tua bertato yang berjalan di antara akar.
Tentang tanah yang berdenyut seperti tubuh yang hidup.
Tentang hutan yang memanggil dengan suara yang pernah akrab di telinga mereka.
Namun gergaji-gergaji mesin terus bekerja. Begitu juga dengan alat berat berupa bulldozer, excavator, dan truck logging. Dan pohon-pohon yang bertumbangan, tidak mampu bangkit kembali.
Suatu sore, seorang anak kecil berdiri di tepi ladang. Ia tidak tahu apa yang hilang. Ia hanya merasakan bahwa ada yang berbeda. Ia berjongkok, dan menempelkan telapak tangannya di permukaan tanah. Matanya terpejam. Untuk sesaat, ia merasa ada sesuatu yang bergerak di bawahnya.
Bukan akar.