pontianak-insights

Sikirei

Sabtu, 9 Mei 2026 | 06:30 WIB
Foto ilustrasi - Portrait of an elderly tribesman in traditional attire, showcasing cultural heritage in West Sumatra. (Pexels @Oncy Oni)

“Tempatnya yang hilang.”

Tangis yang semula ditahan, akhirnya pecah. Berubah menjadi lolongan yang menyayat hati. La’aro terpekur. Pelupuk matanya membasah dan hangat. Ia telah berusaha, tetapi semesta seperti tak mendengarnya.

Hari-hari berikutnya, orang-orang kampung dari balik hutan, mulai pergi ke kota pesisir. Mereka membawa uang hasil ganti rugi lahan, pulang membawa obat dari apotek dan belanjaan lainnya, dan berkisah di serambi uma, betapa menyenangkan kehidupan di kota. Di sana dunia bermandi cahaya, kemewahan dan kenyamanan, tidak bergantung pada hutan untuk hidup.

Sejak itu, uma tak lagi menyajikan keriuhan berbagai punen. La’aro semakin jarang dipanggil. Meski begitu, ia tetap rajin keluar masuk hutan. Sendirian. Hanya berbekal seekor anjing pemburu, tombak dan parang. Seperti sebuah lelaku yang mesti dijalani dengan setia.

Pada sebuah sore, ia menemukan sebatang pohon tua yang masih bertahan. Batangnya terlalu lebar untuk didekap seorang diri. Akarnya menjadi bander, mencengkeram tanah yang enggan melepaskannya.

Ia duduk bersila di bawahnya. Tidak membaca mantra sebagaimana seharusnya. Tidak juga memohon sesuatu. La’aro memejamkan matanya. Ia hanya ingin mendengarkan. Barangkali, melalui alam, ada suatu nubuat yang ingin dikatakan.

Namun berjam-jam berlalu, tak kunjung ada suatu pertanda. Hanya ada keheningan. Sunyi yang terlampau luas untuk disebut damai. Entah, ke mana gerangan Tai Ka-leleu.

Malam harinya, La’aro bermimpi. Ia merasa berada di tengah sebuah rimba yang telah lenyap. Tanahnya menganga, bukan seperti luka, melainkan serupa pintu. Di tengah tegak berdiri sebatang pohon besar. Batangnya retak. Akarnya menggantung di udara. Dari dalam tanah yang terbuka, terlihat sesuatu berdenyut. Tanpa suara. Itulah ingatan!

Ia melihat kerumunan manusia yang berjalan menjauh, tubuhnya dijejali berbagai bagian dari hutan, tanpa pernah mengembalikannya.

La’aro terbangun sebelum sepenuhnya mengerti.

Malam berikutnya, ia mendatangi ladang yang baru dibuka. Barisan tanaman berdiri rapi, sunyi, tanpa sejarah. Tanah di sana terasa asing.

Ia berlutut.

Mulai menggali dengan tangan kosong.

Tanahnya keras. Kukunya patah. Kulit jarinya robek.

Ia tak menyerah. Dan terus menggali.

Halaman:

Tags

Terkini