Menanggapi berbagai tudingan yang muncul, PT Feni Halmahera Timur menyatakan telah melakukan evaluasi internal dan pemeriksaan lapangan. Perusahaan menyebut perubahan warna air diduga dipengaruhi tingginya curah hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Manajemen perusahaan juga mengaku telah menurunkan tim teknis dan tim lingkungan untuk melakukan investigasi lanjutan, sekaligus mengevaluasi sistem pengendalian sedimentasi dan infrastruktur pendukung lainnya.
Baca Juga: Bertemu Macron di Paris, Prabowo Dorong Kerja Sama Ekonomi yang Lebih Besar
Selain itu, perusahaan menyatakan terbuka terhadap proses verifikasi dan evaluasi dari pemerintah maupun instansi terkait guna memastikan penanganan dilakukan secara objektif dan berbasis data.
Hingga kini, berbagai pihak masih menunggu hasil pemeriksaan resmi pemerintah untuk memastikan penyebab perubahan kondisi perairan di Kali Kukuba dan Teluk Buli. Di tengah polemik yang berkembang, tuntutan terhadap transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan lingkungan dalam aktivitas pertambangan terus menguat.***
Artikel Terkait
Listrik di Pabrik Halmahera Timur Tahap 2 Sudah Nyala, ANTAM Siap Produksi Feronikel
Refleksi 34 Tahun WALHI Kalbar, Perjalanan dan Tantangan Gerakan Lingkungan Hidup
Mengenang Nur Hidayati, Mantan Dorektur Walhi dan Greenpeace, Seorang Pejuang Lingkungan yang Berjasa untuk Indonesia
WALHI Bongkar 639 Izin Perusahaan: Dari Tambang, Sawit, hingga Energi Bermasalah
WALHI: Terlalu Banyak Izin, Terlalu Lemah Pengawasan Negara
Tanggap Bencana, Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua Raih KWP Awards 2026