PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Aktivis lingkungan yang pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Walhi dan Kepala Greenpeace Indonesia, Nur Hidayati, atau yang akrab disapa Mbak Yaya, tutup usia pada Selasa, 5 November 2024.
Kabar duka ini disampaikan oleh Walhi melalui akun media sosial resminya.
Baca Juga: Donald Trump Kembali ke Gedung Putih, Hamas dan Israel Beri Respon Berbeda
"Hari ini, kami kehilangan seorang teman, sahabat, pembela HAM, dan pejuang lingkungan yang konsisten sepanjang hidupnya, Nur Hidayati, atau yang akrab kami panggil Mbak Yaya," tulis Walhi di akun X resminya. "Rest in Power, Mbak Yaya!" tambahnya.
Mbak Yaya, yang lahir pada 14 Agustus 1973, dikenal sebagai aktivis yang sejak muda telah berkomitmen pada upaya pelestarian lingkungan.
Ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif Nasional Walhi untuk periode 2016–2020 setelah terpilih dalam Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) di Palembang pada April 2016.
Sebelum memimpin Walhi, Mbak Yaya pernah menjadi Country Director Greenpeace Indonesia.
Lulusan Teknik Lingkungan ITB ini juga aktif dalam organisasi masyarakat sipil lainnya, seperti Sawit Watch dan Kiara, yang turut memperjuangkan hak-hak lingkungan.
Kabar kepergian Mbak Yaya membawa duka mendalam bagi banyak pihak, khususnya organisasi masyarakat sipil dan para pemerhati lingkungan.
INFID dan Transparency International Indonesia (TII) turut menyampaikan belasungkawa melalui akun media sosial mereka.
"Keluarga besar INFID turut berduka cita atas wafatnya Nur Hidayati. Perjuangan Mbak Yaya untuk masyarakat, lingkungan, dan HAM akan selalu dikenang," tulis INFID di akun X. TII juga menyampaikan, "Selamat jalan, Mbak Yaya. Semoga damai di sisi Tuhan Yang Maha Esa."
Greenpeace Indonesia, melalui akun Instagramnya, mengenang Mbak Yaya sebagai sosok yang berdedikasi dan berani.
"Mbak Yaya adalah sahabat, mentor, guru, pemimpin, dan pejuang lingkungan yang mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk penyelamatan lingkungan Indonesia," tulis Greenpeace. "Meskipun bertubuh kecil, ia selalu berada di garda terdepan dalam melawan praktik perusakan lingkungan."
Artikel Terkait
Gandeng Greenpeace, Kecamatan Pontianak Utara Gelar Pelatihan Kewaspadaan dan Pengendalian Karhutla
Greenpeace Indonesia: CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat
Silaturahmi Ekologis, Walhi Kalbar Beraudiensi dengan Keuskupan Agung Pontianak, Begini Kata Mgr Agustinus
Refleksi 34 Tahun WALHI Kalbar, Perjalanan dan Tantangan Gerakan Lingkungan Hidup
Greenpeace Indonesia Ajak Publik Tak Kendor Awasi Pemerintahan Prabowo-Gibran
Solusi Pertanian Ramah Lingkungan di Dusun Ayo Gundaleng