PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Sebelum memasuki balairungsari Rumah Melayu di Pontianak, rombongan peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII terlebih dahulu mengikuti sebuah prosesi penyambutan yang sarat makna.
Dua penari Melayu menyambut kedatangan tamu dengan gerak yang anggun.
Baca Juga: Terjebak Paylater dan Pinjol demi Validasi Sosial? Ini Trik Lepas dari Lingkaran Setan Utang Digital
Setelah itu, Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD Petrus Noegroho Agoeng, bersama artis Lisa A. Riyanto menjalani ritual bepapas.
Dalam tradisi tersebut, kain kuning diletakkan di kaki tamu sebagai simbol penghormatan.
Beras kuning kemudian ditaburkan, disusul percikan air mawar sebagai ungkapan doa dan harapan akan keselamatan serta kebaikan bagi setiap tamu yang datang.
Bagi masyarakat Melayu, penyambutan bukan sekadar formalitas.
Ia merupakan cara menunjukkan penghargaan dan memuliakan orang lain yang hadir sebagai sahabat maupun saudara.
Baca Juga: Bedah Bisnis: Mengapa Kafe Estetik Banyak yang Tumbang dalam Waktu Kurang dari 1 Tahun?
Kunjungan peserta PKSN XIII ke Rumah Melayu, Jumat (29/5/2026), tidak hanya memperkenalkan berbagai tradisi adat, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketua Departemen Pendidikan dan Kepelatihan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat, M. Rustam, menjelaskan bahwa banyak tradisi Melayu yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.
Salah satunya adalah tradisi saprahan, sebuah kebiasaan makan bersama yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Melayu.
Dalam tradisi ini, hidangan disajikan dalam satu nampan besar yang dinikmati bersama oleh beberapa orang yang duduk melingkar.
Namun, makna saprahan jauh melampaui kegiatan makan bersama.
Menurut Rustam, tradisi tersebut sering menjadi ruang musyawarah ketika masyarakat menghadapi persoalan atau konflik.
Artikel Terkait
Sultan Pontianak Beserta Sejumlah Ormas Melayu Ucapkan Selamat dan Sukses Gawai Dayak, Jaga Harmonisasi
Silaturahmi ke Sumut, Ganjar Disambut Ribuan Orang dan Dipakaikan Kain Khas Melayu
Upacara Adat Dayak Ketungau Tesa'ek Sekadau, Pekan Gawai Dayak 2025
Buka Gawai Adat Nosu Minu Podi XXI Sanggau, Wagub Krisantus Pesankan Jaga dan Lestarikan Budaya
Tanah Adat Terancam, Warga Sajingan Besar Minta Pembebasan Kawasan Hutan Segera
Kampung Caping Pontianak, Saat Budaya Melayu dan Kepedulian Lingkungan Bertemu