PONTIANAKGLOBE.COM, SEKADAU -- Tokoh Dayak sekaligus mantan Gubernur Kalimantan Barat dua periode, Dr. (H.C.) Cornelis, menegaskan pentingnya literasi politik bagi masyarakat Dayak dalam Kongres Internasional Literasi Dayak dan The 1st Dayak International Book Fair di Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK), Sekadau, 15–16 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, Cornelis mengajak masyarakat Dayak untuk meningkatkan kesadaran politik agar mampu menjaga hak dan kedaulatan atas tanah adat mereka.
Baca Juga: Di Sekadau, Buku-buku Dayak Menemukan Rumahnya Sendiri
“Saya ingin masyarakat Dayak menjadi cerdas dan mampu menjadi tuan di tanahnya sendiri,” ujar Cornelis saat menyampaikan materi seminar.
Mengangkat tema “Tanah Dayak”, Cornelis menyoroti kebijakan Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang menurutnya perlu dipahami secara mendalam oleh masyarakat adat karena berkaitan langsung dengan ruang hidup Dayak.
Menurutnya, PKH yang dijalankan melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan berpotensi menimbulkan persoalan terhadap keberadaan tanah adat apabila masyarakat tidak memiliki pemahaman politik dan hukum yang kuat.
Baca Juga: Rekor MURI hingga Isu Identitas Warnai Kongres Literasi Dayak Internasional di Kalbar
Cornelis juga menegaskan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap kebijakan negara dan dinamika politik.
“Literasi itu bukan sekadar baca tulis, tetapi juga kesadaran politik. Masyarakat Dayak harus melek politik,” tegasnya.
Kegiatan seminar turut menghadirkan sejumlah pembicara lain seperti Yansen TP, Agus Pakpahan, Petrus Gunarso, dan Telhalia Ambun. Sementara Maidi dari Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya hadir sebagai penanggap seminar.
Baca Juga: Dari Sekadau, Lasarus Kirim Sinyal Kuat soal UU Masyarakat Adat
Selain seminar, kongres juga diisi panel diskusi bersama para pegiat literasi dan tokoh Dayak, antara lain Patricia Ganing, Alexander Mering, Munaldus, Stefanus Masiun, Masri Sareb Putra, Gumelar, Jaya Ramba, Paul Nanggang, dan Pitalis Mawardi dengan moderator Urbanus dan Kalib Siburian.
Dalam rangkaian acara tersebut, Cornelis juga memamerkan sejumlah buku karya dan biografinya di The 1st Dayak International Book Fair.
Pameran buku itu disebut sebagai pameran buku Dayak bertaraf internasional pertama yang digelar di dunia, sekaligus menjadi ruang penguatan literasi dan identitas budaya Dayak di Borneo. ***
Artikel Terkait
Rekor MURI hingga Isu Identitas Warnai Kongres Literasi Dayak Internasional di Kalbar
Di Sekadau, Buku-buku Dayak Menemukan Rumahnya Sendiri
Gerombolan Pria Diduga Lecehkan Penumpang Kereta Garut-Purwakarta, Petugas Langsung Bertindak
Massa Geram! Terduga Pelaku Pelecehan Santriwati Dikawal Ketat Polisi
Polisi Tangkap Manusia Silver Bersenjata Pisau yang Viral di Bali
SMAN 1 Sambas Tolak Final Ulang LCC 4 Pilar Kalbar, Ini Alasannya