Rekor MURI hingga Isu Identitas Warnai Kongres Literasi Dayak Internasional di Kalbar

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Minggu, 17 Mei 2026 | 10:04 WIB
Di tengah derasnya arus digital, masyarakat Dayak terus berupaya menjaga identitas dan pengetahuan lokal agar tetap hidup. Kongres Literasi Dayak Internasional I di Sekadau menjadi ruang bertemunya gagasan, budaya, sastra, hingga strategi masa depan Dayak di Borneo. (Pontianak Globe @Albertus Yustinus Imas)
Di tengah derasnya arus digital, masyarakat Dayak terus berupaya menjaga identitas dan pengetahuan lokal agar tetap hidup. Kongres Literasi Dayak Internasional I di Sekadau menjadi ruang bertemunya gagasan, budaya, sastra, hingga strategi masa depan Dayak di Borneo. (Pontianak Globe @Albertus Yustinus Imas)

PONTIANAKGLOBE.COM, SEKADAU -- Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman, suara-suara tentang identitas Dayak kembali menggema dari sebuah kampus di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Selama dua hari, ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga Malaysia berkumpul dalam Kongres Literasi Dayak Internasional I, membawa satu kegelisahan yang sama: bagaimana menjaga pengetahuan, budaya, dan jati diri Dayak agar tidak hilang ditelan zaman.

Baca Juga: Panduan Lengkap Daftar Bima Mobile Bank Jateng, Simak Cara Aktivasi dan Login

Di ruang-ruang diskusi itu, cerita tentang hutan, bahasa ibu, rumah betang, hingga sastra Dayak bertemu dengan isu kecerdasan buatan, media sosial, dan tantangan global.

Kongres ini bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang perlawanan sunyi untuk memastikan identitas Dayak tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. 

Kongres Literasi Dayak Internasional I Dorong Penguatan Identitas dan Pengetahuan Lokal

Kongres Literasi Dayak Internasional I dan The 1st Dayak Book Fair yang digelar di Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK), Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, pada 15–16 Mei 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas, budaya, dan pengetahuan masyarakat Dayak di Borneo.

Kegiatan berskala internasional itu menghadirkan sejumlah akademisi, penulis, tokoh adat, dan praktisi dari Indonesia serta Malaysia untuk membahas tantangan dan strategi pengembangan literasi Dayak di era globalisasi dan perkembangan teknologi digital.

Ketua Umum Kongres, Yansen TP, mengatakan literasi Dayak memiliki peran penting sebagai penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Dayak.

Baca Juga: Kapolri Ungkap Permintaan Petani ke Prabowo, Mulai dari KUR hingga Bantuan Alsintan

Menurutnya, budaya Dayak merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan kehidupan sosial, ekonomi, budaya, hingga politik masyarakat adat. Karena itu, warisan budaya perlu terus diwariskan kepada generasi muda.

Akademisi Telhalia Ambun menyoroti tantangan dunia modern yang berada dalam situasi VUCA atau volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity.

Ia menilai perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan telah membuat generasi muda semakin jauh dari budaya lokal. Untuk itu, ia mendorong penguatan budaya melalui storytelling dan optimalisasi peran perguruan tinggi dalam pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Cornelis -- anggota DPRRI dan juga gubernur Kalbar 2 periode -- menegaskan bahwa perjuangan masyarakat Dayak saat ini lebih mengutamakan kekuatan intelektual dibandingkan fisik.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia harus dibangun melalui pendidikan yang baik, kecukupan gizi, dan keberanian dalam menghadapi tantangan zaman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ahli Toksinologi Ungkap Dokter Icha Berulang

Selasa, 30 Juni 2026 | 23:08 WIB
X