Rekor MURI hingga Isu Identitas Warnai Kongres Literasi Dayak Internasional di Kalbar

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Minggu, 17 Mei 2026 | 10:04 WIB
Di tengah derasnya arus digital, masyarakat Dayak terus berupaya menjaga identitas dan pengetahuan lokal agar tetap hidup. Kongres Literasi Dayak Internasional I di Sekadau menjadi ruang bertemunya gagasan, budaya, sastra, hingga strategi masa depan Dayak di Borneo. (Pontianak Globe @Albertus Yustinus Imas)
Di tengah derasnya arus digital, masyarakat Dayak terus berupaya menjaga identitas dan pengetahuan lokal agar tetap hidup. Kongres Literasi Dayak Internasional I di Sekadau menjadi ruang bertemunya gagasan, budaya, sastra, hingga strategi masa depan Dayak di Borneo. (Pontianak Globe @Albertus Yustinus Imas)

Dari sisi sastra, Jaya Ramba mengungkapkan perkembangan literasi Dayak di Malaysia telah memberi pengaruh besar terhadap cara pandang masyarakat terhadap budaya Dayak.

Baca Juga: Ahmad Muzani Sebut Juri LCC Tak Perlu Minta Maaf Personal, Publik Bereaksi

Sastrawan Dayak dari Sarawak ini mengajak generasi muda aktif menulis sebagai bentuk menjaga martabat dan identitas budaya Dayak.

Selain itu, ia menilai dunia kepenulisan juga memiliki potensi ekonomi.

Pemikiran strategis lainnya disampaikan Agus Pakpahan melalui konsep first come, first serve bagi masyarakat Dayak sebagai penghuni awal Borneo.

Ia menilai dampak kolonialisme masih mempengaruhi kesadaran masyarakat adat hingga sekarang. Karena itu, diperlukan model pemberdayaan berbasis komunitas yang berakar pada budaya lokal, seperti pengembangan Credit Union (CU) dan ITKK yang disebut sebagai “Model Quantum Ekonomi”.

Sementara itu, Petrus Gunarso, menekankan pentingnya mengubah pengetahuan lokal menjadi warisan hidup melalui berbagai inovasi, termasuk pembangunan rumah betang modern rendah karbon dan rumah buku Dayak.

Ia juga menyoroti pentingnya prinsip free, prior and informed consent dalam setiap aktivitas yang melibatkan masyarakat adat.

Tokoh lainnya, Paul Nanggang, menilai sastra dan bahasa memiliki kekuatan besar dalam membangun kesadaran budaya masyarakat Dayak.

Dalam kegiatan tersebut, penulis Munaldus turut menerima Rekor MURI atas karya Iban Dream setebal 2.560 halaman yang ditulis selama satu tahun dengan konsep satu hari satu cerita.

Kongres Literasi Dayak Internasional I diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi masyarakat Dayak di tingkat global melalui penguatan literasi, pengetahuan lokal, dan identitas budaya yang tetap berpijak pada nilai-nilai tradisional.

Ketua panitia Masri Sareb Putra mengatakan, sebagai sebuah awal mula, the 1st International Dayak Book Fair ini wajib dilaksanakan yang ke-2 dengan menjual buku-buku  juga.

"Ternyata banyak peserta yang ingin membeli," kata penulis sangat produktif tersebut. 

"Kepada GCUKK (Gerakan CU Keling Kumang) dan Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK), saya berterima kasih banyak, " kata Masri Sareb Putra. 

Ia menambahkan begitu besar kontribusi GCUKK dan ITKK. Antara lain menyediakan aula dan perlengkapannya secara percuma.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ahli Toksinologi Ungkap Dokter Icha Berulang

Selasa, 30 Juni 2026 | 23:08 WIB
X